Panen Ketela untuk Dijadikan Pathilo

oleh -
iklan dispar

TANJUNGSARI, kabarhandayani,– Bulan Agustus adalah masanya para petani untuk memanen ketela. Begitu juga di Desa Hargosari Kecamatan Tanjungsari, beberapa petani di sana juga telah mulai memanen hasil bumi yang bisa dijadikan aneka jenis makanan olahan ini.
Suhadi, salah satu petani di Padukuhan Mentel, Desa Hargosari menuturkan, ketela yang ia panen kali ini tidak untuk dijual dalam bentuk gaplek pada umumnya. Namun hasil panennya ini akan dibuat menjadi makanan olahan yang lebih bernilai jual.
Makanan olahan dari ketela yang sering diproduksi, lanjut Suhadi, adalah lempeng, krecek atau manggleng, dan pathilo. Saat ini yang tengah ia produksi adalah makananĀ  pathilo.
“Harga gaplek cuma Rp 1500/Kg, sedangkan ketela basah seperti ini Rp 1200/Kg. Jadi banyak warga di desa ini yang mengolah menjadi pathilo,” jelas Suhadi sambil menunjukkan ketela hasil panen di tangannya, Jumat (1/8/2014).
Wagiyem, istri Suhadi, turut menjelaskan keuntungan yang bisa diperoleh cukup besar bila ketela ini diproses jadi pathilo. Dalam 1 kuintal ketela, biasanya bisa menghasilkan 25Kg pathilo.
Harga untuk tiap Kg pathilo adalah sebesar Rp 12.500. Artinya, nilai jual ketela-ketela itu meningkat lebih dari 100% setelah dipotong ongkos produksi.
“Harga lempeng sama dengan dengan harga pathilo. Kalau krecek sedikit lebih murah sekitar Rp 12.000/Kg. Sebenarnya nantinya bukan kami yang menangani, tapi anak-anak. Kami dulu pernah menjalankan usaha ini dan sekarang diteruskan anak-anak karena saya sibuk mengurus orang tua,” ujar Wagiyem.
Wagiyem melanjutkan, di desa ini ada beberapa sentra industri pathilo yang dapat ditemukan. Hasil produksi biasanya akan diambil beberapa pelanggan dari luar Gunungkidul.
“Dulu, menjualnya hanya sekitar Wonosari saja, tapi sekarang kebanyakan diambil para pembeli dari Bantul,” pungkasnya.(Maryanto/Tty)

Komentar

Komentar