Pak Wid: Jangan Malas, Saya Jualan Soto Keliling Selama 30 Tahun Lebih

oleh -
Widodo meracik soto. KH/ Kandar.

Menurutnya, kunci dirinya mantab untuk bertahan yakni selalu mengedepankan sikap sabar. Tidak ambisius, membabi buta ingin segera atau cepat mendapat dan menumpuk uang banyak.

Tak menjadi soal, meski beberapa tahun terakhir Widodo mengaku omset usahanya perlahan menurun sedikit demi sedikit. Meski tak sebaik dulu, dirinya cukup puas hasil jualannya rata-rata bertahan dikisaran jumlah tertentu. Dirinya selalu yakin selalu saja ada peluang hasil ketika usaha maksimal telah dijalankan.

“Dahulu belum ada angkringan, belum ada rumah makan masakan Padang dan lain-lain,” tutur Widodo. Sehingga kisaran tahun 1985-an soto yang dijajakan hampir selalu habis sebelum sampai Pasar Argosari. Soto lebih cepat habis uang terkumpul lebih cepat. Meski tidak dengan sekarang, dirinya tak mengeluh. Jika hasil kurang memuaskan sehingga lelah hinggap di tubuhnya, buru-buru ia bangun semangat bahwa esok masih ada kesempatan baru.

Lelaki yang berjualan dengan gaya memakai topi khas ala koboi ini menganggap naik turun omset dari sebuah usaha merupakan hal yang sangat lumrah. Tak perlu ditakuti sehingga malas jualan. Baginya, tidak ada sebab untuk libur jualan, kecuali ada keperluan penting keluarga atau perayaan hari besar agama.

iklan upk hari jadi

Widodo sedikit berkisah, wirausaha jualan soto merupakan pekerjaan warisan turun temurun dari kakek buyutnya. Sebelumnya ia berjualan di Magelang. Setelah kena gusur, ia memilih pindah di kampong halaman. Bejualan soto ia mulai sejak harga Rp. 2.500, terus naik hingga kini dijual seharga Rp. 10. 000 per mangkok. Dirinya berpesan, kepada wirausahawan yang sedang merintis usaha haruslah semangat, tidak boleh malas. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar