Olah Ban Bekas Jadi Sandal Dijual Hingga Australia dan Belanda

oleh -
iklan dispar

PALIYAN, kabarhandayani.– Ban mobil atau motor yang sudah tidak terpakai hanya menjadi isi gudang dan sarang nyamuk bagi kebanyakan orang. Namun, dengan  tangan kreatifnya Jemingan (50) warga Padukuhan Sidorejo, Desa Sodo, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul menyulap ban bekas ini menjadi barang yang berdaya guna dan bernilai jual. Dengan ide briliannya, ia mengubah ban bekas ini menjadi berbagai macam barang seperti sandal, bak dan ember. 

Jemingan mengaku sudah menekuni pekerjaan ini sejak tahun 1980-an dengan awalnya hanya memanfaatkan ban bekas yang ada di sekitar rumahnya. Sedangkan saat ini dia sudah mengambil bahan baku dari Jogja. Cara pembuatannya cukup mudah, ban digambar sesuai pola dan dipotong mengikuti pola serta disambung dengan paku dan lem. Sedangkan limbah dari proses pembuatan ini diambil orang dari Surabaya untuk di daur ulang.
 
Jemingan menjelaskan, tidak semua ban dapat dibuat untuk menjadi sandal, khusus ban yang terbuat dari benang karena mudah diiris, sedangkan ban yang ada kawatnya dibuat menjadi ember dan bak. “Dari 275 ban pernah hanya dapat 6 ban yang berbahan benang,” ujarnya.
 
Jemingan mengaku dapat menyulap sekitar  1.000 ban bekas setiap bulannya untuk dijadikan barang-barang tersebut. Dari 1 ban bekas yang ia beli dengan harga Rp 3.000,00 dapat menjadi 3 pasang sandal dengan harga jual Rp 5.000,00 per pasang. Sedangkan, 1 bak dijual dengan harga Rp 25.000,00 dan ember Rp 15.000,00.
 
Jemingan megungkapkan, pengrajin ban bekas yang dulunya banyak terdapat di padukuhan ini, sekarang tinggal 4 orang karena terkendala bahan. Meskipun begitu, produk sandal olahannya sudah didistribusikan ke Australia dan Belanda tetapi melewati pengepul. “Di Belanda dihargai Rp 600.000,00 per 20 pasang sedangkan harga dari sini totalnya Rp 100.000,00. Tapi ya tidak apa-apa, yang penting tetap jalan dan tetap bekerja,” jelasnya. (Mutiya/Hfs)

Komentar

Komentar