Napak Tilas Kopi di Gunungkidul

oleh -
Sajian kopi di salah satu kafe di Gunungkidul. Foto: Istimewa.

Perkembangan kopi awal milenium kedua ini mendapat angin segar dengan penanaman kopi di kawasan Gunung Gambar, Ngawen di Januari 2018. Namun sayangnya beberapa kali ke lokasi awal tahun ini, banyak tanaman kopi yang mati dan hanya tersisa sedikit. Masyarakat bercerita bahwa sebagian besar tanaman kopi mati pada saat musim kemarau.

Sisa tanaman kopi masih bisa dioptimalkan dengan perawatan yang intensif. Selain itu perkembangan kopi di Gunungkidul juga didukung dengan pembuatan kebun kopi yang dilakukan oleh kedai kopi Panggang di sekitar lokasi kedai kopi tersebut. Meski mengambil bibit dari luar Gunungkidul, namun aktivitas-aktivitas tersebut mendukung perkembangan kopi di Gunungkidul. Selain itu, tanaman kopi yang tumbuh di Gunungkidul dan merupakan sisa tanaman masa lalu juga belum diketahui tingkat produktivitasnya.

Hingga saat ini, spesies kopi yang ditanam di gunungkidul adalah kopi robusta (Coffea canephora). Robusta tidak seperti arabica yang memiliki respon yang peka terhadap mikrohabitat. Robusta cenderung lebih tahan terhadap perubahan lingkungan dan stabil. Robusta yang ditemukan di Gunungkidul memiliki ukuran buah dan biji yang kecil.

Jika diamati lebih lanjut, mirip dengan robusta liar dari Pekalongan. Disebut sebagai robusta liar karena ditemukan di alam bebas dan di luar kebun. Diperkirakan robusta ini merupakan sisa dari tanaman kopi sebelumnya yang kini tumbuh bebas di lahan yang berada di luar perkebunan. Diperkirakan ukuran kecil tersebut sebagai efek dari kondisi tanaman kopi yang tidak terawat sehingga selain produktivitas turun, juga ukuran biji yang mengecil sebagai respon dari kurangnya nutrien yang diperoleh dari lingkungan. Kopi robusta terkenal dengan tingkat rasa pahitnya yang kuat. Meski tidak senge-trend arabica, robusta memiliki penikmatnya sendiri.

iklan upk hari jadi
Tanaman kopi robusta di wilayah Patuk. Foto: istimewa.

Mereka yang menyukai kopi pahit dan kental akan lebih menyukai kopi ini daripada arabica. Dan ini sesuai dengan budaya ngopi di Gunungkidul yang sebagian besar masyarakat Gunungkidul terutama yang berumur diatas 40 tahun memilih untuk menikmati kopi pahit yang panas dan kental. Beberapa warga Gunungkidul yang sempat diajak mencoba minum arabica sebagian besar berkomentar bahwa ‘itu bukan kopi’, apalagi setelah ditambah gula bukannya manis tapi malah semakin asam. Image kopi pahit dan kental serta tambahan gula dapat merubah jadi manis benar-benar mengakar kuat di masyarakat Gunungkidul.

Beruntung, pernah mendapatkan kopi robusta yang berasal dari salah satu sisa kebun kopi tahun 90-an di daerah Patuk. Panen mereka tidaklah banyak karena memang tanaman kopi yang tersisa tidak banyak. Biji kopi hijau atau biasa disebut green bean tersebut diroasting, dan setelah resting dilakukan cuping bersama-sama di Katamata Coffee. Rasanya layaknya kopi robusta pada umumnya, dominan rasa pahit. Namun pada kopi ini rasa pahit lebih kuat dan lebih gurih daripada kopi robusta pada umumnya. Karakter rasa yang biasa muncul pada robusta liar.

Saat ini, masih dilakukan upaya menelisik keberadaan sisa kebun kopi di Gunungkidul bagian selatan, karena beberapa hari yang lalu diperoleh informasi bahwa terdapat daerah yang memiliki tanaman kopi sisa dari kebun kopi masa lalu. Hal ini menarik karena jarang ditemui penanaman robusta di daerah pesisir.

Gunungkidul memiliki potensi yang sangat besar sebagai sentra perkebunan kopi. Tidak hanya robusta, arabica dapat pula ditanam di Gunungkidul di bagian utara yang memiliki ketinggian hingga lebih dari 800 mdpl. Meski tidak akan seenak daerah lain yang memiliki ketinggian di atas 1000 mdpl, namun tidak menutup kemungkinan akan memunculkan rasa yang unik karena memiliki mikrohabitat yang berbeda dari tempat yang lain. Daerah pesisir juga memiliki potensi untuk menanam kopi liberica atau excelsa yang memang salah satu habitatnya berada di daerah pesisir.

***

Penulis Edi Dwiatmaja. Pemilik dan pengelola Katamata Cofee, Selang, Wonosari, Gunungkidul.

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar