Menjelajahi Psikosomatis: Sakit Fisik Akibat Stres dan Kecemasan

oleh -
ilustrasi. (Ida Rochmawati)
kadhung tresno

Tahukah anda keluhan penyakit bukan sebatas rasa tetapi juga soal ekspresi kata. Hal inilah yang saya temukan pada saat awal-awal menjadi dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) sekitar dua puluh tahun yang lalu di Puskesmas Paliyan Gunungkidul Yogyakarta. Saya lahir di Malang dan besar di Surabaya sehingga saya tidak terlalu akrab dengan istilah yang biasa digunakan di Jawa Tengah-Yogya. Selama bertugas, saya sering mendengar kata-kata unik dari pasien untuk mengekspresikan keluhan fisiknya. Belakangan saya menyadari apa yang mereka katakan ada kaitannya dengan psikosomatis.

Istilah psikosomatis sebenarnya tidak tercantum dalam pedoman diagnosa namun masih sering dipakai karena sudah umum dan relatif mudah dipahami.

Gangguan psikosomatis digunakan untuk menggambarkan penyakit fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh faktor psikologis, seperti stres dan kecemasan. Psikosomatis terdiri dari dua kata, pikiran (psyche) dan tubuh (soma). Jadi, secara sederhana gangguan psikosomatis diartikan sebagai penyakit yang melibatkan pikiran dan tubuh. Dalam banyak kasus, pikiran mampu mempengaruhi tubuh seseorang hingga memicu penyakit atau memperparah suatu penyakit.

Ada beberapa ekspresi kata dalam bahasa Jawa, yang sering diucapkan pasien untuk menggambarkan keluhannya yang kemungkinan terkait dengan psikosomatis. Kata kata itu adalah:

  1. Biyung Allah

Kata kata ini biasa disampaikan untuk menggambarkan betapa berat keluhan yang dialami tanpa bisa memerinci seperti apa rasanya.

  1. Penyakit “rombongan”

Pasien seringkali mengalami banyak keluhan fisik yang samar dan tidak khas di berbagai organ. Mulai sakit kepala, linu-linu, sakit lambung, nyeri otot dan lain sebagainya.

  1. Penyakit “dang-dong” (kadang-kadang)

Ada kalanya saat datang ke dokter pasien juga tidak merasakan keluhan pada saat itu. Mereka hanya menyampaikan, kadang kadang mereka merasakan banyak keluhan fisik. Waktunya tidak tentu dan tidak bisa dijelaskan pencetusnya.

  1. Penyakit “gek-gek” (jangan-jangan)

Belum tentu juga pasien datang dengan keluhan fisik yang berat. Ia menganalisa sendiri apa yang terjadi pada dirinya lalu menghubungkan dengan apa yang terjadi pada orang lain serta pengetahuan yang didapat. Ia menjadi khawatir berlebihan takut hal buruk terjadi pada dirinya.

  1. Penyakit “sakwetawis” (sekian waktu tertentu)

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan durasi waktu yang tidak pasti berapa lama keluhan diderita seseorang.

Ya, memang demikian. Pasien seringkali menyampaikan beberapa keluhan fisik yang samar, tidak jelas, berulang dan tidak sembuh sembuh meskipun sudah diberikan terapi. Atau sebelumnya sudah ada riwayat penyakit fisik tertentu namun menjadi lebih sering kambuh. Boleh jadi apa yang terjadi pada mereka ada hubungannya dengan faktor psikologis atau psikosomatis.

Hal ini terkait dengan meningkatnya hormon kortisol (hormon stres) , ketidak seimbangan neurotransmitter (kimia otak yang berfungsi untuk komunikasi antar sel syaraf), sampai hiperaktifnya sistem syaraf otonom (syaraf yang terkait organ tubuh). Hal ini sebagai respon dari tekanan psikologis yang disebut stres.

Kapan kita curiga bahwa keluhan fisik yang kita rasakan adalah suatu psikosomatis?

  1. Keluhan fisik yang samar (bisa tunggal atau lebih dari satu)
  2. Batasan waktu munculnya tidak jelas biasanya terkait dengan kondisi kepribadian atau stres yang bermakna.
  3. Berlangsung berulang atau menjadi lebih berat ketika pemikiran akan dugaan itu kita kembangkan sendiri.
  4. Tidak ada bukti medis atau bukti medis tidak kuat untuk menyokong dignosa.
  5. Cara mengekspresikan terkesan berlebihan.

Beberapa jenis penyakit yang sudah tegak diagnosanya, kekambuhan dan keparahannya juga dikaitkan dengan faktor psikologis, antara lain;

Asthma Bronchiale (asma), stomach ulcus (tukak lambung, luka pada pencernaan), irritable bowel syndrome (kondisi kronis gangguan pencernaan seperti diare, sembelit terutama di usus besar), eczema and other skin disorder (penyakit eksim, serta gangguan kulit yang lain seperti psoriasis, dermatitis alergica, jerawat dan lain sebagainya), gangguan jantung dan pembuluh darah, chronic myalgia/fibromyalgia (nyeri otot kronik), penyakit yang terkait dengan sistem imun atau kekebalan tubuh (seperti penyakit autoimun, common cold/flu), hipertensi, dibetes mellitus dan lain sebagainya.

Tentu saja kita tidak bisa serta merta menyalahkan faktor psikologis semata sebagai biang keladi timbulnya gejala atau penyakit tersebut. Sebagai makhluk holistik keluhan fisik atau penyakit fisik yang terjadi pada seseorang, juga terkait dengan berbagai faktor lain, seperti aspek genetis, gaya hidup, lingkungan, paparan dari agen penyakit itu sendiri dan kepribadian. Beberapa penelitian juga menunjukkan orang dengan kepribadian tipe A (kompetitif, ambisius dan perfect) berisiko mengalami penyakit jantung dibanding orang dengan kepribadian tipe lainnya.

Akhirnya pilihan untuk sehat atau sakit kembali pada kita, ketika sampai pada suatu kesadaran bahwa apapun yang terjadi dalam tubuh kita tidak lepas dari kepribadian, pikiran, perasaan dan perilaku, begitupun sebaliknya.

Penulis: dr Ida Rochmawati Sp.KJ (Psikiater RSUD Wonosari dan PKU Muh Wonosari)

Komentar

Komentar