Menikmati Kuliner Puli Tempe Gunungkidul

oleh -
Sukemi dengan puli tempenya. Foto : KH/Kandar
iklan dispar
Sukemi dengan puli tempenya. Foto : KH/Kandar
Sukemi dengan puli tempenya. Foto : KH/Kandar

SEMANU, (KH) — Membicarakan camilan puli dan tempe di Gunungkidul, mungkin wilayah Ponjong dan Munggi yang disebut pertama kali sebagai tempatnya, karena memang di dua wilayah itulah puli tempe lebih terkenal. Tetapi, ternyata di wilayah lain, tidak begitu jauh dari dua tempat tersebut, juga ada pembuat masakan puli tempe yang telah turun-temurun sejak puluhan tahun silam.

Ditemui di tempat produksi sekaligus berjualan, di Tunggul Barat, Desa Semanu, Kecamatan Semanu, Sukemi (50) bertutur kepada KH, dirinya telah membuat dan menjajakan puli tempe sejak puluhan tahun silam.

“Ibu saya Marjoyo (alm) yang memulai sekitar tahun 1963, lantas saya teruskan,” ujarnya.

Awalnya, cerita Sukemi, membuat puli dan tempe untuk suguhan para pedagang sapi yang menginap di rumahnya, sebelum pagi harinya mereka menjalankan usahanya di Pasar Sapi pada hari pasaran Kliwon itu.

Dari situ usaha tempe terus berjalan. Bahkan, kini telah memiliki pelanggan, baik dari Gunungkidul maupun wilayah lain di Yogyakarta. Tidak jarang, para perantau menjadikannya oleh-oleh untuk dibawa kembali ke perantauan, seperti Jakarta, Bandung, bahkan Sumatera.

Dituturkannya, masakan berbahan baku beras dan kedelai ini memiliki resep warisan. Sukemi terus berupaya menjaga rasa tetap bertahan dari waktu ke waktu. Dalam pembuatannya pun demikian, alat penumbuk puli (lesung dan alu) masih memakai alat saat awal usaha ini didirikan. Bahkan kondisi dapur tetap dibiarkan seperti kondisi semula, seperti lantai yang masih berupa tanah, tidak ada niat untuk diperkeras dengan semen.

“Racikan obat puli atau resepnya dari ibu saya. Untuk tempe, menggunakan yang berbungkus daun,” tambahnya.

Dalam sehari lanjutnya, bisa menghabiskan 4-5 tetel (puli sebelum diiris berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 40-50 cm atau setara 4 kg). Sedangkan untuk tempe habis terjual sekitar 300-san biji tempe. Masih dapat meningkat saat hari pasaran Kliwon.

Di kedainya, Sukemi dibantu dua karyawan dalam membuat dan menjual puli tempe yang mulai beroperasi sejak pukul 06.00 hingga pukul 17.00 WIB. Irisan puli yang putih dan lembut, serta baceman tempe dengan gula jawa menjadi paduan yang cocok dengan wedang teh yang disediakan kedai Sukemi. (Kandar)

Komentar

Komentar