Memaknai Rangkaian Upacara Adat Nyadran Gadean, Gunung Gentong Gedangsari

oleh -
Nyadran
Nyadran di Petilasan Brawijaya V di Ngalang, Gedangsari. (KH/ Edi Padmo)

GEDANGSARI, (KH),– Nyadran Gadean Gunung Gentong adalah sebuah upacara ritual adat yang dilakukan oleh masyarakat Kalurahan Ngalang, Kapanewon Gedangsari, Gunungkidul. Upacara ini dilaksanakan di sebuah tempat yang dipercaya sebagai petilasan Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit.

Tempat dilaksanakan upacara merupakan sebuah petilasan yang berupa tatanan batu-batu yang disusun layaknya sebuah tempat untuk duduk atau bertapa. Di lokasi ini banyak ditumbuhi berbagai jenis pohon langka dan sudah menjadi Resan, diantaranya pohon Blabak, Laban, Kelumpit, Kepuh, Cembirit dan lain lain.

Panas Matahari yang terik siang itu tak mampu menembus keteduhan lokasi yang digunakan untuk prosesi acara. Pohon-pohon besar yang tumbuh menjulang mampu membuat suasana sakral lebih terasa di tempat ini.

Kunto Wibowo (51), Ketua Desa Budaya Kalurahan Ngalang menyampaikan, ritual adat ini sudah dilaksanakan turun-temurun selama ratusan tahun.

iklan upk hari jadi

“Ritual dilaksanakan di hari Selasa pasaran Kliwon, sekali dalam satu tahun,” kata Kunto membuka obrolan dengan KH, seusai prosesi acara, Selasa (8/6/2021).

Kunto melanjutkan, bahwa ritual Nyadran ini berbeda dengan acara ‘bersih desa’. Nyadran dilaksanakan sebelum agenda bersih desa dilakukan oleh masyarakat desa Ngalang.

“Bersih desa adalah upacara sebagai bentuk rasa syukur atas panen, sedang Nyadran adalah upacara untuk mengenang perjuangan tokoh yang diyakini pernah bertapa atau tinggal di tempat ini, walaupun sebetulnya prosesi acara keduanya hampir sama,” terang Kunto.

Persiapan upacara sendiri sudah dilaksanakan sejak Senin kemarin. Masyarakat sudah mempersiapkan dan memasak makanan, sajian dan ubo rampe untuk prosesi acara yang akan dilaksanakan Selasa pagi.

“Uba rampe yang akan digunakan untuk upacara Nyadran tersebut sudah dimasak dan disiapkan sejak Senin malam. Kemudian Selasa pagi sekitar pukul 05.00 WIB masakan tersebut mereka kumpulkan di rumah Dukuh,” terang dia.

“Kalau tidak pandemi, ubo rampe tersebut kita kumpulkan di Balai Padukuhan,” imbuh Kunto lagi.

Mulai pukul 06.00 WIB, warga secara bersama-sama membawa ubo rampe tersebut ke Gadean. Jika tidak dalam masa pandemi, biasanya mereka membawa ubo rampe tersebut dengan “Jodang”(wadah berbentuk balok berbahan kayu, yang digotong), menuju ke lokasi hajatan.

“Di petilasan Prabu Brawijaya ini, yang disebut “Gadean”, ubo rampe yang dibawa lantas didoakan oleh tokoh adat,” lanjut Kunto.

Kunto lalu menerangkan, arti dari Ubo rampe atau “Sanggan” yang dibawa untuk ritual, seperti Nasi Putih sambel Gepeng (kedelai), Panggang Ayam, Ketupat dan hasil bumi turut serta dibawa untuk didoakan. Selain itu hal yang wajib dipenuhi adalah sirih yang diikat dengan benang serta sisir suri (sisir untuk mencari kutu rambut).

“Nasi sambel gepeng (sambal sari kedelai), adalah nasi kesukaan Prabu Brawijaya ketika menjalani prosesi bertapa di Gadean, ayam panggang juga menjadi lauk kegemaran Prabu Brawijaya,” sambung Kunto.

Satu-persatu kemudian Kunto menerangkan arti dari ubo rampe yang dibawa. Daun sirih merupakan simbol bahwa lelaki jaman dahulu makan sirih, sisir suri disimbolkan sebagai upaya menyisir berbagai keburukan dan kesalahan yang pernah dilakukan sebelum akhirnya dibuang.

Nyadran
Nyadran Gadean Gunung Gentong. (KH/ Edi Padmo)

“Sementara Kupat/Ketupat adalah pengakuan “aku lepat” simbolisasi pengakuan bahwa manusia memang sering melakukan kalepatan (kesalahan). Harapannya memang segala dosa bisa diampuni oleh Sang Maha Kuasa nantinya,” jelas Kunto panjang lebar.

Semua ubo rampe tersebut dibagi dan dimakan secara bersama-sama. Siapapun yang hadir di situ akan mendapat bagian dari makanan dan sajian yang dibawa.

“Nyadran ini juga sebagai peringatan kepergian Prabu Brawijaya V serta sebagai ajaran berani dan bersedia berkorban kepada orang lain, yang dalam konteks saat ini disimbolkan dengan membagi-bagikan makanan,” lanjut Kunto lagi.

Masyarakat sekitaran gunung Gentong memang percaya, bahwa Nyadran Gadean Gunung Gentong adalah satu hal yang harus dilaksanakan setiap tahun oleh warga setempat. Jika tidak dilaksanakan mereka akan merasa khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Termasuk di masa pandemi, Nyadran tetap dilaksanakan walau memang pelaksanaannya harus menyesuaikan dengan protokol kesehatan.

Bahkan di tahun 2020 kemarin, hajatan ini digelar lebih sederhana dengan membatasi jumlah peserta yang hadir. Untuk tahun ini, dengan protokol kesehatan, acara dilaksanakan dengan jumlah peserta yang lebih banyak. Yang membedakan hanya makanan dibawa tidak dengan Jodang.

“Untuk tahun ini, selain doa dan harapan panen melimpah, dan warga masyarakat ayem tentrem, kami juga berharap Pandemi segera berakhir, dan ritual Nyadran ini hanya sarana, tujuan kita yang utama tetap berharap kepada Tuhan Yang Maha Esa,” pungkas Kunto. (Edi Padmo)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar