Malam Pertama, Kirno Layani 20 Kali

oleh -
kadhung tresno

WONOSARI, kabarhandayani,– Di sudut keramaian, ia duduk di antara dua bakul. Di antara lalu lalang orang yang ingin menyaksikan pentas seni malam pertama pesta FKY, dengan setia menunggu pembeli  yang ingin menikmatinya.
Kirno (30), seorang penjual makanan khas asal Betawi ini menyambut pagelaran seni Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) di Gunungkidul dengan menu andalannya kerak telur.
Bujangan asal Padukuhan Pugeran, Desa Karangsari, Semin ini memanfaatkan ajang FKY yang berlangsung di eks Terminal Wonosari. Dengan sepeda motor, ia bawa bakul berisi telur bebek dan telur ayam beserta bahan lainya menuju Wonosari. Ia telah siap melayani pembeli sejak pukul 17.00 WIB.
Kirno memperoleh kemampuan membuat kerak telur dari kakak iparnya yang asli Betawi. Kemampuan itu ia gunakan sebagai senjata utama penopang perekonomian keluarganya, apalagi setelah bapaknya meninggal Desember 2013 lalu.
Di sela melayani pembeli, ia menuturkan, usaha yang telah dijalani selama lima tahun ini mampu menghidupi dirinya beserta ibunya, Ia menjual seharga Rp 15 ribu untuk satu porsi kerak telur bebek, selisih dua ribu lebih mahal dibanding kerak telur ayam.
“Dari harga itu, saya dapat untung sekitar Rp 3 ribu dari harga jual. Sisanya ya untuk bahan seperti telur, srondeng, ketan, dan abon,” tuturnya sembari mengipas bara di tungku yang mulai redup, Rabu, 3/9/2014.
Di malam pertama ia membuka lapak hingga pukul 22.00 WIB, sekitar 20 telur telah terjual. Untuk meningkatkan hasil, pemuda ramah ini berencana, hingga 9 September berakhirnya FKY nanti, ia akan terus berjualan sejak pukul tiga sore.
Selain berjualan di berbagai keramaian pasar malam baik di Gunungkidul dan DIY, ia juga mangkal di Bundaran UGM setiap minggu pagi. “Ketika pasar malam di Yogya, saya numpang tidur di kos teman. Kalau malamnya nggak ada keramaian, hari minggu saya nglaju ke UGM,” jelasnya.
Dari hasil Kirno berjualan, selain untuk kebutuhannya bersama ibunya, ia juga sisihkan untuk ditabung. Pemuda jomblo ini memiliki impian, suatu saat nanti dapat berjualan menetap dengan kios permanen di wilayah Yogyakarta.
“Mudah-mudahan segera bisa jualan menetap,” pungkasnya. (Kandar/Jjw)

Komentar

Komentar