Makna dan Nilai Fungsional Tradisi Melasti di Ngobaran

oleh -
Upacara Melasti di Pantai Ngobaran Gunungkidul. Foto: Kandar.
iklan dispar
Upacara Melasti di Pantai Ngobaran Gunungkidul. Foto: Kandar.
Upacara Melasti di Pantai Ngobaran Gunungkidul. Foto: Kandar.

Penulis: Sukandar.

SAPTOSARI, (KH)— Pelaksanaan Upacara Melasti di Pantai Ngobaran yang dilaksanakan pada Purnamaning IX, Kamis, (5/3/15) merupakan rangkaian Hari Raya Nyepi. Dalam upacara tersebut Pembimas Hindu Kanwil Kemenag DIY menyampaikan dalam dharma wacana.

Dipilihnya Pantai Ngobaran karena memiliki atmosfir spiritual dan sejarah tersendiri. Menurut cerita rakyat, Prabu Brawijaya VI sang Raja Kerajaan Majapahit yang pernah melakukan tapa brata ditempat ini, sehingga mencapai kesempurnaan hidup (moksa). Tempat yang tepat pula untuk mencapai kedamaian melalui olah spiritual.

“Pantai Ngobaran juga merupakan tempat yang sakral serta mempunyai kekuatan magis untuk melakukan upacara Melasti, sehingga diharapkan memberikan aura yang positif bagi masyarakat Gunungkidul,” papar Ida Bagus Wika Khrisna.

Sesuai pantauan KH di lokasi dan berdasarkan rilis yang diterima dari panitia, upacara melasti dilakukan melalui beberapa prosesi dan ritual. Diawali dengan meng-arak Pekuluh dari seluruh pura di Gunungkidul menuju pantai yang diiringi Mantra Suci dan Kidung Suci yang dipimpin oleh Wasi atau Pinandita.

Prosesi ini menggambarkan laku spiritual atau laku prihatin, di mana untuk menuju kesempurnaan, manusia mesti berjalan di jalan kebenaran. Perjalanan manusia dipimpin oleh Tuhan Yang Maha Esa, dengan simbol ‘Asepan’, diikuti oleh umat yang melakukan puja mantra dan ungkapan terimakasih dengan membawa simbol-simbol kemenangan dan gunungan yang diiringi tetabuhan musik khas.

Ritual persembahan kepada Hyang Widhi Wasa dipuput oleh Romo Pandita Pudja Bratha Jati dari Cilincing. Diawali dengan pensucian dan ‘Ngaturan Banten’ dilanjutkan ‘Prayascitta’ dan Mabyakala’ sebagai simbol mensucikan lingkungan Pura Segara Wukir Pantai Ngobaran, baik Sekala maupun Niskala lalu dilanjutkan dengan ‘Mepradaksina’dan ‘Turun Bethara’, yaitu melinggihkan Dewa Pura Segara Wukir, disusul tarian sakral berupa tari gambyong yang dipersembahkan kepada para Dewa.

Setelah itu, upacara dilanjutkan dengan mengusung Pratima menuju Paseban Pantai Ngobaran untuk disucikan meliputi Buana Agung dan Buana Alit. Dalam ritual ini juga dilaksanakan Labuhan sesaji yang dipersembahkan kepada penguasa laut Pantai Selatan (Kanjeng Ratu Kidul), dengan memohon segala manifestasi Tuhan untuk memberikan anugerah kesucian dengan dihadapkan ke samudra sekaligus memohon tirta amerta (air kehidupan).

Sebagai penutup upacara dilakukan Grebeg, yaitu memperebutkan gunungan yang berisi segala bentuk hasil bumi, isi alam semesta (Pametuning Jagad) yang telah disucikan, isi dari gunungan merupakan simbol berkah yang akan dibawa pulang oleh seluruh Umat Hindu di Gunungkidul pada khususnya.

______________

Sukandar, S.IP., adalah Kontributor Kabar Handayani, sehari-hari berkarya sebagai Guru Honorer di MI Yappi Dondong Saptosari.

Komentar

Komentar