Lebih Berbahaya Mana Framing Atau Hoax?

oleh -
Ilustrasi. (sumber: kompasiana)
iklan hut ri multazam

Luar biasa kekuatan media.

Bagaimana sebuah berita bisa menggoncang dunia dan mencuci otak kita.

Begitu mudahnya mencari berita di media sosial. Lalu menyebarkannya tanpa pikir panjang. Kemudian otak kita akan menuntun  pada perspektif yang kita mau dan  yakini. Karena begitulah kerja  otak manusia.

Disini framing dimulai!

Framing dalam difinisi mikro adalah menyajikan berita dengan perspektif penulis.

Contoh; seorang tokoh menyampaikan tentang bahaya Corona dan tindakan apa yang sudah dilakukan. Atau seseorang memposting bantuannya. Itu sih sah sah saja karena mungkin punya tujuan mulia untuk menginspirasi orang lain melakukan hal yang sama.

Misalkan  penulis mempunyai perspektif yang buruk tentang tokoh  atau tindakan tersebut. Ia kemudian akan membingkainya sebagai pencitraan, ada udang dibalik batu, ditunggangi kepentingan politik tertentu.

Jadi…framing itu berangkat dari fakta yang ada tapi disajikan sesuai perspektif dan kepentingan penulis atau penyampai.

Beda dengan hoax yang merupakan berita palsu. Faktanya tidak ada tetapi di”create” sedemikian rupa seolah nyata untuk kepentingan tertentu dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan berita Corona? Derasnya berita dari segala penjuru angin membuat kita sering bingung, ini fakta yang diframing atau hoax yang dicreate.

Dalam jurnalistik dikenal istilah credible person. Credible person adalah orang yang mempunyai kredibilitas untuk bicara. Credible person belum tentu ahlinya. Dalam satu instansi sumber berita biasanya disampaikan oleh jubir untuk menghindari kesalahpahaman dan perspektif yang beragam

Dalam perbincangan dengan Dedy Corbuzier juru bicara pemerintah tentang Covid 19 mengatakan tugasnya adalah “mengatur berita”. Silahkan tafsirkan sendiri maksud mengatur berita.

Di sinilah penerima berita harus cerdas.

Ada 5 saringan untuk menyampaikan berita. Saya menemukan meme yang menarik di media sosial.

BEFORE YOU SPEAK, THINK

Is True..?

Apakah benar..

Is Helpful..?

Apakah  bermanfaat…

Is Important..?

Apakah penting…

Is Necessary..?

Apakah perlu…

Is Kind..?

Apakah baik..

Sudah cukup  framing dan hoax tersaji di media sosial tentang wabah Covid-19. Kita sebaiknya  tidak menyebarkannya sebelum menyaringnya.

Maka sesungguhmya mana yang lebih bahaya framing atau hoax, kembali pada kearifan kita. Karena kebenaran akan tetap jadi kebenaran manakala hati nurani tidak ditumpangi kepentingan pribadi dan golongan.

#antihoaxdanframing

(Catatan obrolan kaki lima bersama Herman Aga dua tahun yang lalu saat rame ramenya pilpres).

 

By: Ida Rochmawati

Psikiater di RS PKU Muhammadiyah dan RSUD Wonosari Gunungkidul, aktivis LSM Imaji Yogyakarta.

Komentar

Komentar