Semakin membesar dan terkenalnya Warung Kopi Klotok membawa dampak positif bagi warga daerah sekitar. Warga sekitar banyak yang terserap menjadi tenaga kerja. Warga sekitar utamanya kalangan muda yang bekerja di Warung Kopi Klotok mencapai 70 orang.
“Warung kopi ini selalu mempertahankan cita rasa olahan dan pelayanan agar orang yang pernah datang tertarik untuk kembali lagi,” kata Prita belum lama ini.
Disinggung dampak gelombang Pandemi COVID-19 yang berlangusng 2 tahun lebih diakui membawa dampak serius terhadap kunjungan. Pembatasan yang ditetapkan pemerintah guna mencegah penularan Virus COVID-19 juga sempat membuat pendiri Kopi Klotok memilih tutup sementara selama sekitar tiga bulan. Keputusan tutup sementara selain demi mengikuti anjuran pemerintah, saat penularan virus meluas kunjungan memang sangat minim.
Tak hanya bagi pemilik, dampak ekonomi bagi pekerja sangat dirasakan. karyawan tak lagi memperoleh penghasilan.
Setelah diijinkan kembali membuka warung, Kopi Klotok melakukan segenap penyesuaian. Diantarnya penerapan Protokol Kesehatan (Prokes). Ada karyawan yang khsusus bertugas menjaga tertibnya prokes. Mulai dari pengukur suhu tubuh, mengantisipasi kerumunan, dan ketertiban bermasker.
Karena tak melayani jasa pesan antar atau dibungkus dibawa pulang, manajemen Kopi Klotok benar-benar berusaha menerapkan prokes secara ketat.
Diakui penurunan omset harian terjadi selama pandemi. Namun, kini perlahan Kopi Klotok berusaha eksis melayani pelanggan untuk menaikkan pendapatan. Untuk menjaga kepercayaan dan memberi jaminan keamanan konsumen selama menikmati menu di Kopi Klotok, Prokes ketat menjadi intrumen penting dari segenap pelayanan kepada pelanggan.
“Kami siap menerapkan setiap kebijakan pemerintah. Termasuk jika wacana pandemi bertransformasi menjadi endemi, kami juga siap dengan penyesuaian pelayanan,” tandas Prita.
Penulis : Siti Fatimah (Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta)