Kisah Sedih Penjual Bakso di Hari Lebaran’

oleh -
kadhung tresno

WONOSARI, kabarhadayani.– Sudah dua kali Lebaran Agus Wahyudi (37) tidak dapat merayakan Lebaran bersama keluarga. Agus memilih menjajakan bakso keliling demi mencukupi kebutuhan keluarganya yang ada di Desa Karang Nongko, Kecamatan Saptosari Gunungkidul.
Saat ditemui KH, Senin (28/07/2014) Agus sebenarnya ingin juga berkumpul merayakan Idul Fitri bersama keluarga saat Lebaran. Namun, tuntutan ekonomi memaksanya tetap berkeliling mendorong gerobak bakso menyusuri setiap gang dan perumahan yang ada di Wonosari.
“Sebenarnya pengen, tapi gimana lagi,” kata Agus dengan mata berkaca-kaca dan perkataaan yang terbata-bata menahan sedih yang dia rasakan.
Bagi Agus, dirinya akan pulang jika sudah membawa uang yang cukup untuk membahagiakan keluarganya. Menurutnya, lebih memilih menahan sedih tetapi pulang membawa uang daripada berkumpul bersama keluarga tetapi kebutuhan tidak tercukupi.
Agus mengaku, berjualan di hari Lebaran biasa mendapat untung berlipat daripada hari-hari biasanya. Jika pada hari biasa mendapat untung Rp 50.000,00, berjualan saat Lebaran akan mendapat untung tiga kali lipat atau Rp 150.000,00 sekali berjualan.
“Jualan saat lebaran untungnya meningkat karena harga 1 porsi bakso yang pada hari biasa kita jual Rp 5.000,00, saat Lebaran kita jual dengan Rp 8.000,00,” terang Agus.
Impian Agus untuk memanfaatkan momentum Lebaran tampaknya berjalan mulus, gerobak bakso yang dia dorong seusai shalat Idul Fitri, diserbu warga saat berada di salah satu perumahan di Wonosari. Sembari meracik porsi demi porsi bakso sapi daganganya, ucapan hamdalah tak lepas dari bibirnya.
“Alhamdulilah bisa pulang kampung ketemu keluarga, ”kata Agus lirih. Rencananya bapak dua orang putra ini akan pulang menemui keluarganya besok pagi.
Agus hanya satu dari sekian banyak pedagang yang tetap nekat menjajakan daganganya saat hari Raya Idul Fitri. Tuntutan ekonomi dan alasan untuk membahagiakan keluarganya umum mereka utarakan. (Juju/Hfs)

Komentar

Komentar