Kirab Budaya Sebagai Wahana Pendidikan dan Pelestarian Budaya

oleh -
iklan dispar

 PATUK, kabarhandayani.—Kirab budaya merupakan wahana pendidikan dan upaya pelestarian budaya. Oleh karena itu, Desa Ngoro-oro, Kecamatan Patuk, Gunungkidul menggelar kirab budaya pada Minggu (10/8/2014). Ratusan masyarakat turut berpartisipasi dalam acara yang berpusat di Lapangan Desa Ngoro-oro.
“Kirab budaya ini merupakan wahana pendidikan dan penyemangat bagi warga masyarakat agar lebih menghormati nilai-nilai luhur. Selain itu, kirab ini digelar dalam rangka untuk menyemarakkan HUT RI ke-68 sekaligus mengenalkan kepada khalayak bahwa Desa Ngoro-oro juga memiliki keragaman budaya.,” jelas Purwanti, ketua panitia.
Lanjut Purwanti, kirab budaya diikuti oleh sejumlah 25 bergodo arak-arakan dari 9 padukuhan yang terletak di Desa Ngoro-oro. Seusai upacara pelepasan,pecut dilecutkan sebagai penanda arak-arakan memulai kirab dengan diiringi berbagai macam gamelan yang dibunyikan. Arak-arakan tersebut berjalan mulai dari Balai Desa Ngoro-oro hingga Lapangan Ngoro-oro.
Peserta kirab menampilkan berbagai macam budaya yang dimiliki masing-masing  padukuhan dan berbagai macam kreatifitas seni yang diciptakan seperti jathilan, hadroh, karawitan, gejog lesung, campursari, bela diri, hasil bumi,  kerajinan, parade angklung, kreatifitas ibu-ibu PKK, santri TPA dan karang taruna. Nampak pula gunungan dan nasi tumpeng beserta ingkung menjadi ikon dari beberapa bergodo.
Dalam acara ini juga digelar bazar hasil bumi dan hasil kreatifitas masyarakat serta menyajikan hasil lomba masak. Menurut Purwanti, selain menggali dan mengenalkan produk-produk UKM juga diharapkan mampu menjadi wadah untuk menciptakan ekonomi kreatif dan akhirnya produk masyarakat dapat dikenal luas.
Camat Patuk, Haryo Ambar yang turut hadir dalam acara tersebut memberikan apresiasi penuh dengan penyelenggaran kirab budaya yang perdana digelar di Desa Ngoro-oro. Ia berharap, warganya terus memajukan seni dan budaya serta menggali potensi yang ada di wilayahnya.
Sementara itu, Sudarmanto, perwakilan dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam sambutannya memberikan dukungan penuh atas penggalian potensi budaya Desa Ngoro-oro. Pasalnya, sesuai UU keistimewaan DIY tahun 2012, budaya diselenggarakan untuk memelihara dan mengembangkan hasil, cipta, rasa, karsa, karya yang berupa nilai-nilai pengetahuan, norma, adat istiadat, seni, dan tradisi luhur yang mengakar dalam masyarakat DIY.
Dalam acara ini, turut hadir perwakilan dari Disbupar Gunungkidul, perangkat desa, polsek Patuk dan ratusan penonton. Kirab budaya ini nampaknya juga menarik perhatian para pengendara yang melintas dengan berhenti dan mengabadikan moment tersebut. Dalam acara ini juga dilalukan pelepasan 7 burung merpati sebagai simbol pelestarian budaya dan kebebasan dalam berekspresi dalam bentuk kegiatan yang positif dan terarah.(Mutia/Tty)

Komentar

Komentar