Kesaksian Sembuh Dari COVID-19 Dalam Waktu Relatif Cepat, Apa Saja Kiatnya?

oleh -
dr Iip Wibawa Putra sembuh dari COVID-19 dalam waktu yang relatif cepat tanpa gejala sakit. (dok. dr Iip/istimewa)
iklan hut ri multazam

WONOSARI, (KH),– Masyarakat umum banyak yang bertanya bagaimana perawatan pasien COVID-19 selama berada di rumah sakit hingga kemudian sembuh. Karena hingga saat ini vaksin virus tersebut belum ditemukan, intervensi obat yang diberikan menyesuaikan gejala yang dialami pasien.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty beberapa waktu lalu menyampaikan, selain diberi obat sesuai keluhan, pasien juga diberi multivitamin dan makanan bergizi guna menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuhnya.

Hal tersebut dibenarkan dr Iip Wibawa Putra, salah satu pasien COVID-19. Menurutnya, selain penanganan medis, kunci kesembuhan juga datang dari kiat dan upaya masing-masing pasien.

Pendiri Klinik Pratama Rawat Inap Multazam ini mengaku, berkat upaya serius menjaga kesehatan, ia dapat sembuh dalam rentang waktu yang relatif singkat.

“Saya masuk rumah sakit tanggal 22 Juli 2020 lalu. Kemudian keluar dari rumah sakit sudah sembuh setelah 6 hari dirawat,” kata dia, Minggu, (2/8/2020).

Selain cepat sembuh, pihaknya juga mengaku selama terinfeksi virus COVID-19 tidak bergejala. Sama sekali tidak merasakan adanya keluhan kesehatan yang berarti.

Lelaki yang berdomisili di Kapanewon Wonosari ini selama dirawat melakukan olah raga setidaknya 3 kali dalam seminggu dengan durasi kurang lebih 1 jam. Dirinya juga mengaku suka makan umbi merah atau ungu, minum jus buah dan air putih dalam jumlah cukup.

“Kemudian selama isolasi di rumah sakit, saat makan menambahkan menu lalapan kenikir, bayam, kangkung, sayur kelor dan sejenisnya. Menu makan keluarga tersebut sebaiknya disediakan setidaknya 3 kali dalam seminggu,” terang lelaki kelahiran 8 Juli ini.

Karena ia memeluk agama Islam, dirinya juga melakukan kebiasaan yang dinilai positif. Diantaranya menghirup air dengan hidung agak ke bagian dalam saat berwudlu dan membiasakan doa malam serta berbaik sangka pada Allah. Hal tersebut dinilai menentramkan dan menjaga kondisi psikologis. Doa dan meminta pertolongan Allah, bagi dr Iip menjadi ikhtiar yang paling akhir.

Di luar itu, pasien COVID tidak boleh cemas dan takut berlebihan. Dirinya menegaskan, dampak virus COVID yang lebih besar justru terhadap kondisi psikososial ketimbang pengaruhnya bagi kondisi fisik.

Komentar

Komentar