Kesaksian Pasien Sembuh dari COVID-19 Pasca Isolasi Mandiri

oleh -
covid-19
Setyo Purnomo penyintas COVID-19. (dok. Setyo)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Angka penyebaran Covid19 di Gunungkidul saat ini memang sampai pada level mengkhawatirkan. Hampir tiap hari penambahan kasus terpapar grafiknya mengalami kenaikan yang signifikan. Begitupun angka mortality (kematian) pasien Covid, tiap hari semakin bertambah.

Keadaan ini memaksa Gubernur DIY, menandatangani Instruksi Gubernur tentang  penerapan PPKM Darurat dari tanggal 3 sampai 20 Juli 2021.

Dampak yang paling dirasakan masyarakat secara umum adalah situasi ketakutan dan panik. Ketakutan terpapar Covid19, dan kepanikan terhadap situasi ekonomi yang melesu akibat Pandemi.

Ketidakjelasan keadaan, distorsi informasi tentang Covid19 membuat tingkat kepanikan dan ketakutan masyarakat semakin menjadi. Pada sisi yang lain, masih ada sebagian masyarakat yang tidak percaya dengan bahaya wabah, sehingga klaster-klaster penyebaran virus semakin sulit untuk diidentifikasi atau dikontrol penanganannya.

Membludaknya pasien di berbagai rumah sakit, membuat tenaga medis dan fasilitas kesehatan yang memang terbatas menjadi kewalahan. Banyak warga masyarakat yang terpapar terpaksa harus menjalani isolasi mandiri di rumah.

Bagi Orang Tanpa Gejala (OTG) mungkin tidak begitu masalah, tapi ada beberapa pasien yang memang mengalami gejala klinis Covid19, tapi tetap bertahan untuk isolasi di rumah.

Kapolsek Playen, AKP Hajar Wahyudi (45) membagikan pengalaman pribadinya saat dia terpapar Covid19, dengan gejala klinis yang menyertainya.

AKP Hajar menceritakan bahwa dia mulai mengalami gejala awal Covid19 pada tanggal 5 Januari 2021.

“Waktu itu saya melakukan test Rapid antigen, dan dinyatakan positif,” terangnya Minggu (4/7/2021).

Hajar melanjutkan, gejala awal yang dia rasakan dalam satu dua hari terpapar saat itu adalah demam, tensi darah naik, tapi suhu tubuh tetap normal, dan tubuh tidak bertenaga (nglolosi).

“Hari ke tiga mulai ada gangguan pernafasan, dan daya penciuman mulai berkurang, hari ke empat dan ke lima sudah tidak bisa merasakan bau sama sekali dan nafas semakin sulit,” lanjut AKP Hajar.

Hajar melanjutkan, saat hasil testnya positif, dia mulai ijin dari kantor dan melakukan isolasi mandiri di rumah.

“Tiap harinya saya  mengkonsumsi putih telur 2 atau 3 butir sehari, vitamin, makan teratur dengan nutrisi yang cukup, tidak harus mahal yang penting beragam, dan istirahat yang cukup, dan meningkatkan imunitas tubuh,” lanjutnya.

Selain itu, beberapa obat alternatif juga dia konsumsi untuk upaya pemulihan kesembuhan, dan berangsur-angsur keadaan tubuhnya mulai pulih.

“Alhamdulillah, setelah lebih dari 7 hari keadaan tubuh saya mulai membaik, walau belum sepenuhnya pulih, dan setelah tanggal 25 Januari 2021, saya dinyatakan negatif dari Covid19,” imbuhnya.

Kapolsek Playen yang bertempat tinggal di Prambanan ini berpesan kepada seluruh masyarakat, untuk lebih berhati-hati dan menjaga diri dengan taat Prokes, dia menegaskan bahwa Covid19 itu nyata ada, dan berbahaya.

“Terkena Covid itu sakit sekali rasanya, marilah kita jaga diri dan keluarga dengan taat Prokes, untuk aturan PPKM Darurat ini mari kita patuhi dengan banyak berada di rumah. Jangan pergi-pergi jika tidak perlu sekali, berperilaku hidup sehat, olahraga teratur, dan  istirahat yg cukup,” imbuhnya.

Disisi lain, Hajar mengajak masyarakat untuk tidak panik dan ketakutan berlebih, karena hal itu juga tidak baik untuk kesehatan diri.

“Jangan gampang percaya kabar hoaks, untuk informasi tentang Covid, akses informasi dari sumber-sumber yang terpercaya. Banyak berpikir positif, dan yang paling penting penguatan diri dengan meningkatkan imunitas tubuh, dan selalu taat Prokes,” tandasnya.

Rasa sakit terinfeksi Covid19 juga diungkapkan Setyo Purnomo (43) seorang warga asal Kapanewon Playen yang saat ini tinggal di Yogyakarta. Setyo menceritakan bahwa dia dinyatakan positif Covid19 pada tanggal 18 Juni 2021 lalu.

“Saat hasil test PCR saya positif, waktu itu saya belum merasakan gejala apa-apa,” terang Setyo.

Baru setelah tiga hari saya mulai merasakan demam, dan berlanjut mulai hilang rasa terutama bau-bauan. Ketika makan lidah hanya bisa merasakan rasa pahit dan asin,” imbuhnya lagi.

Gejala yang timbul selanjutnya menurut Setyo adalah gangguan pencernaan, dan tubuh yang lemah serta ngilu-ngilu, tapi dia mengaku tidak merasakan gangguan pernafasan.

“Saya merasakan demam dan gejala-gejala itu selama kurang lebih 7 hari, tiap jam 5 sore sampai sekitar jam 11 malam tubuh saya demam, dan berkeringat, juga timbul ruam-ruam kemerahan pada kulit,” lanjutnya.

Menurut Setyo, sejak dinyatakan positif dia berusaha untuk tidak panik, dan menyemangati dirinya dan keluarga bahwa bisa melawan penyakit ini.

“Istri dan ketiga anak saya juga dinyatakan positif, walau setiap masing-masing mempunyai gejala yang berbeda-beda, bahkan salah satu anak saya yang hampir tanpa gejala, atau hanya merasakan flu ringan,” tutur dia.

Menurut Setyo, ketika seluruh keluarganya dinyatakan positif ada sisi baiknya. Satu keluarga bisa menjalani isolasi mandiri bersama-sama dan saling menguatkan satu dan yang lainnya.

“Saya selalu mengajak keluarga untuk bergembira, walau kami menjalani isolasi mandiri di rumah, kami malah ada banyak waktu untuk bisa bersama. Bersyukur lingkungan tempat tinggal kami sangat baik, tiap hari banyak tetangga yang mengirim makanan ke rumah kami,” terang Setyo.

Setyo melanjutkan, kiat dia menghadapi penyakit ini, setiap hari dia mengkonsumsi vitamin, mulai dari vitamin C, D, B Compleks dan beberapa obat medis yang dikirim oleh kantor tempat dia bekerja.

“Resepnya harus makan banyak, walau hanya berasa pahit dan asin. Harus dipaksa untuk makan, karena prinsipnya tubuh yang sedang sakit perlu asupan banyak nutrisi. Tiap hari saya banyak makan pisang, karena pisang banyak mengandung Vitamin dan bersifat Alkali,” lanjut Setyo.

Selain makan banyak, Setyo juga rutin mengkonsumsi rebusan daun Sambiloto dan makan Bawang putih mentah.

“Untuk pengobatan tradisional, yang paling saya rasakan efek manfaatnya adalah rebusan daun Sambiloto dan Bawang putih mentah, serta uap air panas yang ditetesi minyak kayu putih, kemudian dengan kerubung handuk saya menghirup uapnya,” beber Setyo.

Setelah berlalu 10 hari, Setyo mengaku keadaan tubuhnya semakin membaik dan pulih. Lantas setelah 14 hari Setyo sudah merasakan pulih seperti sedia kala.

“Covid itu benar-benar ada, dan saya merasakan sakitnya, bahkan saya kehilangan kakak saya  yang meninggal karena terinfeksi Covid19. Memang kakak saya mempunyai Komorbird penyakit diabetes,” terang dia lagi.

Lebih lanjut Setyo mengajak siapapun untuk menjaga diri dan keluarga dengan mentaati Prokes dan selalu menjaga kesehatan dan Imunitas tubuh.

“Covid bisa menyerang siapa saja, dan itu memang berbahaya, untuk itulah pentingnya kita menjaga diri dan taat Prokes. Saat terserang Covid yang pertama kita lakukan adalah jangan panik berlebihan, karena kita akan droop dan lemah. Usahakan untuk tetap gembira dan semangat, sehingga imunitas tubuh kuat, dan virus akan kalah dengan antibodi kita yang kuat,” pungkas Setyo. (Edi Padmo)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar