Kemarau Panjang, Kebutuhan Pakan Ternak Gunungkidul Capai Ratusan Juta

oleh -
Pedagang pakan ternak. Foto : KH/Kandar
iklan dispar
Pedagang pakan ternak. Foto : KH/Kandar
Pedagang pakan ternak. Foto : KH/Kandar

PALIYAN, (KH) — Musim kemarau panjang yang masih terjadi, selain menyulitkan kebutuhan air bersih bagi sebagian warga Gunungkidul, juga berdampak pada pemenuhan hijauan pakan ternak warga. Pemenuhan pakan ternak yang tadinya didapat dengan mencari rumput dan tumbuhan hijauan lainnya, sudah beberapa waktu terakhir, mau tidak mau harus membeli.

Hal ini begitu berat dirasakan bagi warga yang status kepemilikan ternaknya diperuntukkan sebagai tabungan atau aset. Berbeda dengan peternak sekaligus pedagang, mereka membeli hijauan pakan ternak (tebon jagung) dalam mencukupi pakan sapi atau kambing tiap harinya.

Beberapa cara ditempuh warga untuk menghemat pengeluaran uang. Bagi yang mengetahui cara serta memiliki alatnya, mereka membuat pakan ternak alternatif dengan cara fermentasi. Namun, tidak sedikit warga yang memberikan dedaunan kering sebagai tambahan pakan.

“Saat ini lebih sering saya kasih dedaunan kering untuk mengurangi pembelian pakan. Hijauan di ladang sudah sejak lama habis. Tersedia lagi, kalau nanti sudah hujan. Bisa 3 hingga 4 bulan lagi,” ujar Eko salah satu pemilik ternak asal Desa Karangasem, Paliyan, Rabu, (7/10/2015).

Dirinya mengaku telah mulai membeli pakan jenis tebon jagung sejak empat bulan terakhir. Pemenuhan pakan sapi yang dimilikinya, untuk tiap ekor sapi dewasa sekitar Rp 15 hingga 20 ribu. Tidak hanya Eko, sebagian besar pemilik ternak di Kabupaten Gunungkidul merasakan hal yang sama. Ini terlihat dari begitu banyaknya pasokan pakan ternak yang masuk ke Gunungkidul tiap harinya.

Ditemui terpisah, Nuryadi penjual pakan ternak asal Wonosari, mengutarakan, prediksinya ada sekitar 50-an truk atau rit tiap harinya masuk ke Gunungkidul, dengan kisaran untuk tiap rit antara Rp 3,5 hingga 4 juta, sehingga dalam sehari pemenuhan pakan ternak Gunungkidul mencapai ratusan juta.

“Perkiraan saya segitu, biasanya berasal dari Bantul, Klaten, Boyolali, dan Kalasan, di Gunungkidul sepertinya tidak ada yang menanam dengan jumlah banyak,” jelasnya. (Kandar).

Komentar

Komentar