Kawasan Suaka Marga Satwa Sering Disalahgunakan

oleh -
iklan dispar

PALIYAN, kabarhandayani.– Sungguh sayang, area yang diperuntukkan sebagai tempat rehabilitasi hutan serta semua ekosistem yang ada didalamnya, termasuk perlindungan terhadap kawanan kera ekor panjang, Suaka Margasatwa (SM) Paliyan disalah gunakan.
Setelah hutan berhasil direhabilitasi, kemudian  ada penambahan dua buah bangunan yang berada di atas bukit kawasan Hutan SM, menjadikannya sangat nyaman dan sejuk. Salah satu Bangunan Joglo itu didirikan sebagai tempat peristirahatan dan ruang pertemuan.
Dewasa ini kawasan hutan SM sering dijadikan tempat penelitian dan pengembangan ilmu kehutanan oleh institusi pendidikan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan Universitas Gajah Mada (UGM) dan Sekolah Menengah Kehutanan Jepang rutin tiap tahun mengadakan penelitian.
Namun sayang, tempat yang disediakan sebagai kegiatan positif tersebut dijadikan tempat mesum oleh pasangan tidak sah. Bagi remaja yang sedang kasmaran lokasi tersebut memang sangat nyaman karena posisinya tersembunyi.
Disampaikan Rahman,  selaku petugas dari SM Paliyan, bahwa dirinya sering mendapati pasangan sedang  “in the hoy”  di semak-semak kawasan hutan. Bahkan jika kelewatan (melakukan hubungan layaknya suami istri) pihaknya langsung menyerahkan ke pihak kepolisian, dalam hal ini Polsek Paliyan.
Ia menambahkan, dirinya bersama rekannya selaku petugas lapangan, bertanggung jawab dalam hal pengamanan kawasan dari pencurian kayu, serta tindakan lain yang merusak ekosistem SM. Namun dirinya tidak bisa membiarkan perilaku negatif yang dilakukan di kawasan tersebut.
“kami berempat dan tiga anggota dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sebenarnya tidak mengurusi hal-hal tersebut, tapi bagaimana lagi, itu dilakukan di kawasan kami,” keluhnya, Sabtu, 2/8/2014.
Ia melanjutkan, bersama Babinsa dan anggota Polsek berulang kali  melakukan pembinaan juga memanggil kedua orang tua pelaku, dengan harapan remaja yang kebanyakan belum dewasa tersebut jera.
“Heran saya, kebanyakan masih pelajar SMP dan SMA, pernah ada yang masuk hutan pakai seragam, keluarnya sudah ganti baju,” imbuhnya. Rahman tak habis pikir, mungkin kejadian tersebut merupakan dampak globalisasi dan kemajuan IT.
“agak sering, kadang sehari bisa 2 pasangan, tiga pasangan, kadang juga tidak ada atau luput dari pengawasan kami, mungkin dampak kemajuan zaman,” pungkasnya.(Kandar/Tty)

Komentar

Komentar