Karung Goni Bekas Mampu Topang Kebutuhan Hidup Keluarga Bowo

oleh -
Istri Bowo sedang memotong karung goni yang akan dijahit. Foto : Atmaja
iklan dispar
Istri Bowo sedang memotong karung goni yang akan dijahit. Foto : Atmaja
Istri Bowo sedang memotong karung goni yang akan dijahit. Foto : Atmaja

WONOSARI, (KH) — Untuk mencukupi kebutuhan keluarga berbagai upaya bisa dilakukan; mulai dari bekerja atau merintis sebuah usaha. Kali ini karung goni bekas atau yang lebih sering disebut dengan bagor, dimanfaatkan untuk dijadikan sebuah tas belanja.

Seorang pengrajin karung gandum, Bowo (45), warga Madusari Wonosari memanfaatkan karung bekas yang didaur ulang untuk mencukupi kehidupan keluarga. Dari belajar dengan teman yang juga berprofesi sebagai pengerajin tas karung goni, ia dapat menjalankan usaha tersebut sampai saat ini.

Untuk mendapatkan karung goni bekas, Bowo membelinya dari pengepul yang ada di Padukuhan Madusari dengan harga  Rp 1700 hingga Rp 2000, tergantung jenis karungnya. Pembuatan tas karung goni, melewati beberapa tahap.

“Karung bekas dicuci terlebih dahulu dan dikeringan, kemudian dipotong dan dijahit. Setiap hari mampu memproduksi 100 tas yang dijual ke pasar Argosari Wonosari maupun pasar Munggi Semanu,” katanya, Rabu, (04/03/2015).

Ia memaparkan, usaha kerajinan tas goni sudah sejak tahun 2010 lalu. Bowo mengaku, dengan bantuan istri, dari hasil usahanya tersebut dapat mencukupi keluarganya. “Dari daur ulang tas karung ini saya dapat menyekolahkan kedua anak saya,” ujarnya.

Karung goni yang sudah dipermak menjadi tas karung goni dijual seharga Rp 17.000 untuk satu tasnya. Dari penjualan tas karung goni tersebut, dalam waktu sebulan ia mendapatkan keuntungan sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.

Memasuki musim panen, ia mengaku kesulitan stok karung goni bekas. Pasalnya, saat ini karung goni banyak digunakan oleh petani untuk menyimpan hasil panenan.

“Harus mencari ke pengepul lain untuk mendapatkan karung goni bekas. Petani juga sering membeli karung bekas kepada para pengepul untuk keperluan panenan,” imbuhnya.

Terlepas dari kesulitan yang dihadapi Bowo saat ini, ia tetap bersyukur atas usaha kerajinan tas bagor yang tetap berjalan. “Tentunya tetap disyukuri, karena dari usaha ini kebutuhan anak dan istri saya bisa tercukupi,” tandasnya. (Atmaja/Tty)

Komentar

Komentar