Kakek 75 Tahun Ini Masih Bersemangat Menjual Jasa Reparasi Payung

oleh -
Suparto (75), penjual jasa perbaikan payung masih bersemangat keliling menjajakan jasanya. Foto: Gemma.
iklan dispar
Suparto (75), penjual jasa perbaikan payung masih bersemangat keliling menjajakan jasanya. Foto: Gemma.
Suparto (75), penjual jasa perbaikan payung masih bersemangat keliling menjajakan jasanya. Foto: Gemma.

WONOSARI, (KH)— “Payung rusak..payung rusak..” Itulah yang diucapkan seorang kakek sepuh suatu siang saat menyusuri jalan protokol di Kota Wonosari. Itu juga cara Suparto (75) menawarkan jasanya sebagai tukang reparasi payung rusak.

Suparto, nama pria itu dalam keseharian berkeliling di berbagai daerah di Gunungkidul untuk menjual jasanya. Di usianya yang tak lagi muda, ia tetap bersemangat mencari nafkah untuk keluarganya.

Pekerjaan menjual jasa perbaikan payung ini mulai digelutinya sejak tahun 197o, mulai dari satu ruji yang harganya masih 5 Rupiah. “Saya mulai ndadani payung sejak pasar belum dibangun. Satu ruji 5 Rupiah, sekarang satu ruji 4.000 ribu Rupiah,” ujarnya.

Dari kerja kerasnya membetulkan payung rusak ini, Suparto berkisah ia mendapat berkah dan mampu menyekolahkan 3 orang anaknya.

“Anak saya 6, sing mboten onten 3 (yang sudah meninggal 3). Saya bisa menyekolahkan anak-anak saya,” ujarnya.

Mulai pagi hari hingga pukul lima sore, Suparto berjalan berkeliling di berbagai daerah di Gunungkidul untuk menjajakan jasanya. Dengan langkah pelan-pelan, mengingat usianya sudah 75 tahun, suaranya masih terdengar cukup lantang. Semangatnya tidak pudar, meski terik menyengat.

Suparto mengaku, ada beberapa rute yang biasa ia singgahi. Dari rumahnya Wonosari, ia pergi ke tempat tujuan mencari rejeki dengan naik bus terlebih dahulu.

Nek kulo niku biasane tebih (Saya biasanya menjual jasa di tempat jauh). Baran, Praci, Bedoyo, Ponjong, Semanu. Mangkeh seking mriki naik bis (dari sini naik bis). Nek pas mboten onten bis nggeh mlaku biasa ngeten niki (kalau pas gak ada bis ya jalan seperti ini).” ungkapnya

Penghasilannya tidak seberapa, apalagi datangnya musim kemarau. Untuk satu payung, ia mematok harga 5.000 rupiah. Jika keadaan sepi, dalam sehari ia mengantongi 15.000 rupiah.

Saat KH menemuinya di pinggir jalan seputar Jl Kolonel Sugiyono Wonosari, jam menunjukkan pukul 12.00 WIB, dan ternyata Suparto belum mengantongi uang sepeser pun dari hasilnya mengitari Kota Wonosari.

Dalam menghidupi keluarganya, ia tidak sendiri. Bersama istrinya, mereka sama-sama membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Istrinya bekerja sebagai buruh cuci. (Gemma)

Komentar

Komentar