
Alan juga mengajak pemuda sekitar melanjutkan uji coba dengan membuat produk-produk kreasi baru.
“Dengan uji coba yang cukup lama karang taruna berhasil membuat camilan berbahan kulit Lidah Buaya. Sisa dari daging yang dibuat Nata De Aloevera,” imbuh Alan.
Alan berkeinginan seluruh warga tak hanya sebagai penyedia bahan baku saja. Melainkan kelak semakin banyak yang menjadi produsen-produsen baru dengan berbagai produk turunan Lidah Buaya.
“Banyak yang bisa dibuat, selain minuman cup Nata De Aloevera dan keripik, produk lain yang dapat dibuat yakni dodol, teh celup, permen jelly, kerupuk, selai, es krim, sirup dan lain-lain,” papar Alan.
Saat ini penjualan Nata De Aloevera baru sebatas menyuplai daerah lokal. Dalam sehari rata-rata 300 cup yang dibuat langsung habis dibeli konsumen atau pedagang. Adapun harga yang dipatok yakni Rp. 2.500 tiap cup. Keuntungan cukup berlipat, sebab satu kilogram Aloe Vera dapat dibuat 15 minuman cup Nata De Aloevera.
Sementara, produk keripik yang berhasil dibikin oleh karangtaruna lebih banyak dijual secara online. Kota-kota besar seperti Bandung, Palembang, Jogja, Jakarta dan lain-lain menjadi tujuan pengiriman camilan renyah seharga Rp.12 ribu itu.
“Semua tak lepas dari dukungan banyak pihak baik pemerintah, lembaga keuangan, dan swasta yang diberikan saat kami merintis. Mudah-mudahan daerah kami kedepan menjadi kawasan industri penghasil produk berbahan dasar Lidah Buaya,” harap Alan. (Kandar)





