Inovasi Produk Olahan Lidah Buaya Dari Nglipar Laris Manis

Alan dengan produk cipataannya. KH/ Kandar.

Sementara ia bekerja di Jakarta, perawatan dilakukan orang tuanya. Dari kejauhan dirinya memantau perkembangan tanaman-tanaman tersebut. Selama menunggu panen, banyak referensi yang ia cermati sebagai persiapan mengolah hasil panen Lidah Buaya.

Dirinya kerap memberikan arahan kepada ibunya via hand phone. Setelah benar-benar tiba masa panen, Alan bersama ibunya membuat minuman cup berbahan Lidah Buaya atau Nata De Aloevera.

Bacaan Lainnya

Minuman yang dibikin ternayata mendapat respon yang baik di masyarakat. Dari waktu ke waktu penjualan semakin meningkat. Minuman Aloe vera cup cukup laris. Kemudian barulah dirinya mensosialisasikan kepada warga sekitar sekaligus menawarkannya untuk ikut menanam Aloe Vera sebagai penyedia bahan baku.

Pemberdayaan Warga Sekitar

Diawal memang tidak mudah, Alan mengaku harus meyakinkan dan memotivasi dengan sungguh-sungguh, barulah tawaran disambut baik oleh warga. Saat warga mulai tertarik dan bersedia, dibuatlah kelompok Budidaya Aloevera Mount Vera Argotek yang diketuai Sumarni, ibunya. Warga diajak untuk menanam di lahan-lahan kosong. Warga yang sebelumnya sekedar menanam di pot-pot bunga, saat ini lahan kosong milik warga dipenuhi Lidah Buaya. Tanah pekarangan warga menjadi produktif. Tak hanya itu, inovasi Alan mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dengan digelontorkannya bantuan bibit Lidah Buaya bagi kelompok yang dibentuknya.

“Masyarakat sekitar sudah terbiasa menanam pala wija, cukup susah mengajak warga agar mau menanam Lidah Buaya di lahannya. Setelah melihat buktinya, mereka bersemangat,” ujarnya beberapa waktu lalu saat ditemui di kediamannya.

Kelompok pembudidaya di Padukuhan Jeruk Legi berjumlah 100-an orang. Beberapa anggota menjadi tenaga pembuat produk. Untuk memudahkan penyampaian informasi/ pengetahuan serta ilmu seluk beluk mengenai Lidah Buaya juga dibentuk tim inti berjumlah 24 orang. Kemudian masing-masing tim inti membawahi sekitar 5 orang.

Masyarakat pembudidaya saat ini telah merasakan manfaat dengan mendapat hasil setelah menjual panenan Lidah Buaya. Hasil panen warga dibeli dengan harga antara Rp. 1000 hingga Rp. 2.000 tiap kilogram.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait