Hadapi Wabah Covid-19 Berkepanjangan, Stok Pangan Gunungkidul Aman

oleh -
(ilustrasi) Panen padi di Bendung, Semin, Gunungkidul. (KH)
iklan dispar

WONOSARI, (KH),– Masyarakat sangat berharap pandemi Coronavirus Diseae 2019 (Covid-19) segera berakhir. Upaya penanganan telah dilakukan oleh berbagai pihak, baik unsur pemerintahan juga oleh masyarakat.  Tidak dapat diprediksi kapan upaya tersebut akan berhasil tuntas.

Korban berjatuhan. Angka kematian akibat virus baru ini di berbagai belahan dunia cukup tinggi. Demikian juga di Indoensia, pergerakan jumlah korban masih saja mengalami kenaikan.

Ibu kota yang disebut sebagai episentrum penyebaran kelabakan. Sementara di daerah termasuk Gunungkidul kini telah merasakan imbasnya.

Selain ancaman bagi kesehatan hingga jiwa masyarakat, sektor ekonomi berada di poin berikutnya yang turut terpukul. Menjadi logis jika pandemi semakin menjadi, masyarakat bijak menengok dan menyiapkan cadangan pangan yang dimiliki. Tidak berlebihan, hal tersebut merupakan upaya mitigasi karena skala bencana semakin meluas.

Cukup melegakan, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Ir Bambang Wisnu Broto mengungkapkan, cadangan pangan utamanya beras di Gunungkidul diprediksi surplus hingga akhir tahun.

Data yang dimiliki, produksi panenan gabah Januari-April 2020 atau sub round 1 mencapai 256.789 Ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara dengan 161.109 Ton beras. Sementara jumlah kebutuhan konsumsi dalam periode yang sama mencapai 20.428 Ton. Dilihat dari jumlah produksi dan kebutuhan konsumsi maka dipastikan masih banyak terdapat sisa.

“Prediksi untuk Mei-Agustus 2020 masih mampu produksi 8.139 ton beras. Dengan jumlah kebutuhan konsumsi yang sama, kekurangannya akan tercukupi oleh produksi beras Januari-April,” jelas Bambang Wisnu Broto.

Pada periode 4 bulan berikutnya, September-Desember 2020 beras yang mampu dihasilkan diprediksi sekitar 32.007 ton. Sehingga jika ditotal, jumlah produksi beras selama setahun mencapai 201.255 ton. Adapun kebutuhan konsumsi selama 1 tahun mencapai 61.284 ton beras. Dengan begitu, Gunungkidul masih suprplus beras sebanyak 139. 971 ton.

Komoditas pertanian yang lain, yakni jagung hingga akhir tahun dapat dihasilkan 390.782 ton pipil kering dan berbentuk beras jagung. Adapun kebutuhan konsumsinya baik untuk pangan dan ternak mencapai 146.543 ton. Secara otomatis hingga akhir tahun Gunungkidul juga masih surplus jagung.

Demikian juga dengan kacang tanah, hasil panen jauh lebih banyak ketimbang kebutuhan konsumsi selama setahun. Berbeda dengan kedelai, hasil dalam satu tahun tidak mampu mencukupi kebutuhan pangan dan industri olahannya.

Dalam kesempatan berbeda, Bupati Gunungkidul, Badingah mengimbau para petani agar bijak mengupayakan ketahanan pangan saat pandemi Covid-19 mendera.

“Masyarakat yang baru saja panen padi maupun jagung serta kacang dan palawija lain untuk tidak dijual keseluruhan. Sehingga akan mendukung ketersediaan pangan di Kabupaten Gunungkidul,” imbau Badingah. Kali ini dirinya meminta manajemen hasil panen diperlakukan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Komentar

Komentar