Gambaran Daya Beli Dan Minat Masyarakat Gunungkidul Terhadap Sepeda Motor

oleh -
ilustrasi. Beberapa tipe sepeda motor di salah satu dealer di Gunungkidul. KH/ Kandar
iklan dispar
Beberapa tipe sepeda motor di salah satu dealer di Gunungkidul. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Sepeda motor menjadi sarana transportasi yang paling dominan dimiliki oleh masyarakat di Gunungkidul. Kepemilikan sepeda motor utamanya masih didasari akan kebutuhan penunjang kerja.

Berdasar penelusuran KH, akhir-akhir ini terjadi pergeseran cara atau metode masyarakat dalam membeli sepeda motor. Selain itu juga terdapat fluktuasi mengenai jumlah penjualan dari beragam merek sepeda motor. Dari beberapa main dealer sebagian besar menyebut kuantitas pembelian mengalami penurunan.

Seperti yang diungkapkan oleh GM Dealer Suzuki Jl. Agus Salim, Kepek, Wonosari, Tatag Sucahyo. Ia mengakui adanya penurunan konsumen. Kata dia, tidak hanya terjadi di daerah, tetapi hal tersebut sepertinya dialami secara nasional.

“Karena ada stop produksi, saat ini di dealer kami hanya menyediakan dua jenis/ merek saja, ada Suzuki Satria 150 dan Suzuki matic merek Address,” ujarnya, Senin, (10/1/2016). Dirinya menilai disamping minat masyarakat, jumlah penjualan menurun salah satunya disebabkan karena sidikitnya tipe yang disediakan.

Sementara itu, terjadi adanya perubahan mencolok mengenai cara pembelian oleh masyarakat. Dahulu banyak dilakukan secara kredit tetapi sekarang khususnya yang membeli sepeda motor di dealernya lebih banyak dilakukan dengan cara pembayaran cash.

“Dalam sebulan terjual sekitar 20-an unit, sekitar 70 persen dilakukan secara cash. Awal tahun ini kita akan menyediakan tipe full sport, Suzuki GSX R seharga Rp. 30-an juta dan  GSX S seharga Rp. 27-an juta,” terangnya.

Sedangkan untuk tipe sepeda motor Yamaha, dari pantauan di Dealer Sumber Baru Kepek, Wonosari, angka penjualan selalu naik turun dalam setiap bulannya. Apabila diambil jumlah rata-rata kurang lebih terjual antara 40 hingga 50 unit tiap bulannya.

“Dari 52 jenis merek yang disediakan, pilihan konsumen beralih dari tipe sport ke jenis matic sport. Naik turun penjualan sangat dipengaruhi suatu peristiwa atau fenomena yang terjadi di masyarakat. Pembelian naik signifikan saat Lebaran dan musim masuk sekolah,” urai Kepala Penjualan Dealer Yamaha, Paulus.

Pola yang dia amati, masyarakat menjual sepeda motor lama, uang hasil penjualan tersebut selain untuk biaya masuk sekkolah dipakai untuk membayar uang muka sepeda motor yang baru. Lanjut dia, paulus mengklaim bahwa angka pejualan tahun 2015 lebih baik daripada 2016.

Sementara di tempat lain, pengakuan sedikit berbeda diungkapkan oleh Kepala Dealer Kawasaki, Siyono, Playen. Menurutnya, penjualan mengalami peningkatan dibanding tahun lalu. Sumber yang enggan disebut namanya ini juga menolak menyampaikan jumlah unit terjual dalam setiap bulannya.

Tuturnya, keluaran sepeda motor tipe sport dan adventure dapat diterima dipasaran. Melayani segmentasi pasar anak muda bergaya ‘sport’ dan berjiwa petualang telah disodorkan merek Ninja dan KLX serta D-Tracker.

“Apabila masyarakat sudah memilih dan tertarik pada salah satu tipe, mereka seolah tidak mempermasalahkan harga, atau bahkan harus inden terlebih dulu untuk sementara waktu,” urainya. Hampir sama dengan dealer lain, pembelian secara cash diakui juga meningkat.

Dugaannya, masyarakat memilih meminjam di bank berupa pinjaman jenis kredit usaha dan lainnya. Dengan uang pinjaman tersebut mereka membayar cash sepeda motor, hal itu dipilih karena bunga lebih rendah dibanding apabila melakukan pengajuan kredit ke leasing yang bekerjasama dengan dealer.

Sementara itu di salah satu dealer Honda, data tidak banyak diperoleh. Penelusuran hanya mendapatkan keterangan sebatas rata-rata penjualan yang menembus ratusan unit dalam setiap bulannya. (Kandar)

Komentar

Komentar