Empat Perupa Gunungkidul Turun Gunung Pameran Di Taman Budaya Jawa Tengah

oleh -
Persiapan Pameran "Nyawiji" Empat Perupa Gunungkidul
iklan dispar

[Solo, 20/8, KH] Pada peringatan ulang tahun yang ke-61 Sanggar Bambu kembali menggelar pameran seni rupa bertempat di Taman Budaya Jawa Tengah, Jl. Ir. Sutami No. 57, Kentingan, Jebres, Solo Jawa Tengah, berlangsung 20-30 Agustus 2020. Mengambil tema “Nyawiji” dalam pandemi Covid 19, pameran ini diikuti oleh 190 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Seperti yang diungkapkan oleh Totok Bachori, sang ketua sanggar, Sanggar Bambu yang berada di Solo Jawa Tengah merupakan “tempat pertemuan” dan “medan persahabatan”siapa pun tanpa membedakan suku, agama dan kepercayaan. Sanggar Bambu selalu berusaha bersumbang-sih dalam seni dan kebudyaan.

Totok Bachori menerangkan bahwa “Nyawiji” mempunyai arti ‘bersatu’, dalam hal ini penyelenggara berharap ada sinergitas yang terjalin baik itu antar seniman dan perupa, pemerintah, serta pihak-pihak lain manapun atau siapapun demi kemajuan seni dan budaya khususnya di daerah Jawa Tengah-DIY dan seluruh Indonesia pada umumnya. Sanggar Bambu yang berdiri tahun 1959 sampai sekarang masih eksis berkecimpung di dunia seni rupa Indonesia. Bekerja sama dengan Taman Budaya Jawa tengah, di masa pandemi ini Sanggar Bambu menyelenggarakan sebuah event akbar yang ditunda sejak April dan tentunya tetap menggunakan protokol kesehatan yang ketat baik untuk panitia, peserta, maupun pengunjung.

Para Perupa Gunungkidul .[Foto:Padmo]
Para Perupa Gunungkidul .[Foto:Padmo]
Empat Perupa Gunungkidul ikut turun gunung berpartisipasi dalam pameran “Nyawiji”. Mereka adalah Agus Riyanto (Kapanewon Patuk), Andi Kartojiwo (Kapanewon Karangmojo), Bernard Wora Wari (Kapenewon Panggang), dan Eri saktiawan (Kapanewon Karangmojo). Pada pameran ini empat perupa Gunungkidul mengusung karya-karya yang memiliki karakter dan jatidiri kuat, unik-otentik, baik yang dimiliki oleh sang perupa sendiri maupun wilayah tumbuh mereka yaitu Gunungkidul. Seperti diketahui, nama-diri seorang perupa dan seniman tentu bukan melulu berakar pada pengakuan sosial saja. Para perupa dan seniman yang terjun pada aneka bidang seni tentu di dalam diri dan dunianya tertoreh catatan-catatan perjalanan yang menjadikan sejarah keperupaan atau kesenimanannya terbentuk, sehingga karakter khas dan jati diri yang mencitrakan ‘muatan lokal setempat’ serta torehan-torehan unik-otentik lain melekat pada dirinya. Masing-masing perupa dan seniman mempunyai hak untuk menentukan strategi berkarya dan berkesenian, memilih dan menentukan jalur percepatan untuk tumbuh dan berkembang, memperlebar dan memperluas ruang lingkup zona karya yang dikabarkan ke khalayak, serta aneka hal lain untuk memantaskan diri agar karya-karya yang dihasilkan semakin bermutu dan berkualitas di level apapun dan manapun.

Oleh karena itu, tentu bukan kegiatan yang lumrah  ketika empat perupa Gunungkidul dua pekan ini ‘turun gunung’ ikut berpartisipasi dalam pameran seni rupa di Taman Budaya Solo Jawa Tengah.  Pameran kali ini adalan momen langka yang mampu menyuguhkan terobosan mengagumkan di saat bangsa dan negara Indonesia dilanda pandemi Covid -19 namun tetap memeroleh apresiasi dari berbagai pihak serta kalangan di seluruh Indonesia. Empat perupa Gunungkidul telah sepakat untuk terus berkarya di tengah pandemi serta iklim berkesenian yang sulit diprediksi.

Agus Rianto, perupa dari Kapanewon Patuk, menuturkan, “Seorang seniman harus mampu menunjukkan karakter  pilihannya dan tahan uji pada kondisi apapun, termasuk di saat seperti ini. Salah satu tujuan saya ikut berpameran adalah untuk memperkuat jalinan silaturahim sesama seniman nasional, menambah jam terbang pameran, meningkatkan kualitas karya, serta untuk selalu menjaga ruh seni masing-masing pelukis.” Agus menambahkan bahwa beberapa perupa Gunugkidul bersama-sama mengikuti pameran di Taman Budaya Jawa Tengah membawa sebuah tekat yang kuat, mendasarinya dengan niat baik di tengah gejolak suasana transisi pandemic. “Kami dengan gembira dan tulus mencoba tetap berkesenian melalui pameran yang diadakan oleh Sanggar Bambu bekerjasama dengan Taman Budaya Jawa Tengah ini,” ungkapnya. Ia mengatakan bahwa dengan adanya pameran seperti ini mampu menunjukkan bahwa ketika kita dalam kondisi transisi pandemi namun jika tetap menyiapkan antisipasi terhadap resiko maka sebenarnya tetap mampu berkesenian lintas provinsi. Agus berharap, “Semoga apa yg menjadi usaha kami bisa menumbuhkan nilai tambah bagi kami secara pribadi maupun rekan perupa lainnya untuk bisa nyawiji dalam aktivitas seni budaya di Gunungkidul khususnya dan atau ruang pameran internasional.”

Agus Rianto.[Foto:Padmo]
Agus Rianto.[Foto:Padmo]
Eri Saktiawan, perupa dari Kapanewon Karangmojo, menerangkan bahwa usia 61 tahun bagi sebuah komunitas atau sanggar adalah sebuah capain luar biasa atas harapan-harapan yang dulu pernah disemaikan. Semangat untuk selalu bersolidaritas, konsisten, dan istiqomah merupakan hal sangat istimewa. Ini sangat menginspirasi, bahkan bisa dijadikan sebagai contoh dan acuan bagi komunitas lain dalam kondisi apapun tetap solid. Sebagai pelaku seni Eri Saktiawan tak bisa sekedar memperjuangkan kekaryaan secara individual saja, namun sebisa mungkin secara kolektif-komunal memberikan karya bagi masyarakat luas. Semangat Sanggar Bambu yang sangat panjang ia maknai sebagai gerakan berkesenian di wilayah terdekat dari gunung sisi selatan (Gunungkidul) kita agar ketahanan aktivitas seni tetap terjaga. Eri Saktiawan ingin tetap menjaga ritme berkesenian di masa pandemi.

“Apapun keadaannya seniman harus tetap eksis”, ujar perupa Bernard Wora Wari dari Kapanewon Panggang senada dengan Eri. “Dengan biaya sendiri, dan mandiri, semaksimal mungkin kami ingin berjuang memperjuangkan perkembangan Seni Rupa Gunungkidul,” Eri menambahkan. “Sebetulnya ada event seni rupa yang digagas oleh Dinas Kebudayaan Gunungkidul, terkait Ulang Tahun Gungkidul bulan Mei lalu. Tetapi karena pandemi, maka diundur dan format pamerannya dirubah. Setelah beberapa kali pertemuan, disepakati pameran akan dilakukan secara virtual. Tapi entahlah, sampai sekarang tidak ada kabar lagi. Kami memutuskan untuk ikut mengambil bagian pada event pameran ulang tahun Sanggar Bambu, di Taman Budaya Jawa Tengah ini,” ujar Andi.

Andi Kartojiwo berargumentasi, “Nyawiji” akan relevan jika dibawa ke Gunungkidul saat ini. Di tengah menghangatnya suasana menjelang digelarnya perhelatan Pilkada, nyawiji (bersatu) adalah semangat yang harus dijunjung tinggi. Ia berharap semoga kekuatan seni Gunungkidul tetap bersifat universal, dan mampu merangkul masyarakat Gunungkidul pada umumnya, bukan seni untuk  komoditas atau kepentingan sesaat.

[KH/Edi Padmo]

Komentar

Komentar