Desa Wisata Klayar Kembangkan Camping Ground dan Permainan Kano

oleh -
Desa Wisata Klayar menyediakan wahana camping ground dan permainan perahu kano. KH/ Kandar
iklan dispar

NGLIPAR, (KH)— Desa Wisata Klayar semakin berbenah. Upaya yang dirintis sejak 2013 silam, kini tidak hanya menyediakan wahana dengan konsep permainan air saja. Saat ini pengelola juga menyediakan kawasan camping ground.

“Selain itu ada aula berupa limasan berkapasitas 300 orang. Sedangkan area bumi perkemahan mencapai hampir 1 hektar,” kata Tugiran Sekertaris Pokdarwis Klayar, Kamis, (25/11/2016).  Kawasan anak sungai Oya di Bendung Kedung Lumbu memang memiliki panorama yang sangat indah. Terlebih adanya ketersediaan air dan dukungan suasana lingkungan sangat mendukung untuk dijadikan lokasi kegiatan berkonsep alam.

Ia menyebutkan, fasilitas lain yang dimiliki berupa 6 gazebo dan beberapa spot yang dirancang untuk lokasi foto. Air yang tenang serta jernih sehingga dengan jelas memantulkan hijaunya rerimbunan pohon di kanan kiri sungai, membuat kawasan ini sangat cocok dijadikan pilihan untuk melepas kepenatan menikmati ketenangan.

Tugiran mengakui, progres pengembangan kawasan wisata yang dikelola belum signifikan, utamanya disebabkan terkait faktor pendanaan. Sehingga hasil dari kunjungan wisatawan hingga saat ini masih diutamakan untuk pengembangan kawasan wisata yang berada di Desa Kedungpoh Kecamatan Nglipar ini.

“Hari libur atau minggu rata-rata kunjungan biasanya berkisar antara 100 hingga 150 orang,” ungkapnya. Selain untuk operasional anggota yang berjumlah 10-an pemuda ini, sebagian besar pendapatan untuk pengembangan, seperti penanaman taman dan penataan pendukung lainnya.

Fasilitas yang dapat dinikmati pengunjung antara lain naik kano dengan biaya Rp 10 ribu tiap penumpang. Dipersilahkan mendayung perahu menyusuri sungai sejauh 300-an meter atau sepuasnya. Sedangkan untuk naik kapal bermesin, dengan diajak dua kali melakukan putaran penumpang hanya ditarik biaya Rp 5 ribu saja.

Sarana berupa 1 unit kapal mesin dan tiga buah kano itu didapat dari bantuan Pemdes setempat dan swadaya masyarakat sekaligus pengelola. Rencananya, ke depan pengelolaan kawasan akan dinaungi oleh BUMDes.

“Sebetulnya bagus juga untuk kawasan budidaya ikan, tetapi terkadang ada ancaman banjir,” imbuh Tugiran. Sementara ini, untuk menjaga keseimbangan ekosistem, di kawasan sungai tidak diperbolehkan adanya penangkapan ikan. Biota sungai dibiarkan berkembang, apabila ada banjir atau aliran yang besar biarlah ikan-ikan itu ikut terbawa aliran sungai. (Kandar)

Komentar

Komentar