Desa Krambilsawit Tak Andalkan Pembangunan Fisik Sambut Tim Penilai

oleh -
Gapura dan pagar bambu seadanya pada ruas jalan utama Desa Krambilsawit, Saptosari. KH/ Kandar.
iklan dispar
Gapura dan pagar bambu seadanya pada ruas jalan utama Desa Krambilsawit, Saptosari. KH/ Kandar.
Gapura dan pagar bambu seadanya pada ruas jalan utama Desa Krambilsawit, Saptosari. KH/ Kandar.

SAPTOSARI, (KH)— Ketika desa yang lain dalam menyambut penilaian lomba, gencar melakukan pembangunan fisik dengan menggelontorkan dana hingga ratusan juta bahkan menyentuh angka milyaran, tetapi berbeda dengan Desa Krambilsawit, Kecamatan Saptosari.

Keberhasilan non fisiklah yang menjadi andalan saat menyambut sedikitnya 35 tim penilai lomba desa tingkat Kabupaten Gunungkidul, Senin, (11/4/2016). Camat saptosari Jarot Hadiatmaja menyebutkan, ditunjuknya Krambilsawit mewakili Saptosari melalui pertimbangan matang tim penilai kecamatan.

“Krambilsawit memang tak mengandalkan fisik, setidaknya dua hal dapat diraih Krambilsawit dalam dua tahun terakhir,” kata Jarot.

Pertama, lanjut Jarot, perihal pariwisata, di Krambilsawit telah dilakukan penataan dan pembukaan destinasi wisata Pantai Ngeden dan Pantai Mbutuh. Keduannya melalui program dana Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan di Indonesia (MP3KI) dan PNPM murni.

“Kemajuannya menurut kami cukup luar biasa, setiap Sabtu dan Minggu antara 4 hingga 6 ribu wisatawan berkunjung. Tentu ini peluang ekonomi yang baik bagi masyarakat setempat,” ujar dia.

Kemudian, meski jumlah penduduk miskin masih mencapai angka 60 persen, tetapi desa dengan 9 padukuhan ini telah mendeklarasikan stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Desa pinggiran ini pula memiliki andil besar dalam program setingkat kecamatan dalam penurunan permasalahan social yaitu penikahan usia dini.

“di Gunungkidul, Saptosari merupakan salah satu kecamatan dengan kasus pernikahan dini cukup tinggi, 2013 ada 19 kasus. Setelah ada komitmen bersama dengan dilakukan deklarasi tingkat kecamatan dampaknya di tahun 2015 hanya ada satu saja,” imbuh dia.

Aspek penilaian lain, keguyuban dan kegotong-royongan di Krambilsawit masih dijaga dengan baik, sehingga jarot menyatakan siap jika Krambilsawit dipercaya menjadi duta Gunungkidul maju mengikuti penilaian di tingkat Provinsi.

Sementara itu, Ketua tim penilai, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB), Sujoko, S Sos, Msi menyatakan bahwa apa yang ditemui saat melakukan penilaian, apa yang menjadi maksud dan tujuan lomba desa telah berjalan dengan baik.

“Penyambutan oleh semua komponen yang ada di Krambilsawit menurut kami cukup baik, upaya pemberdayaan dan rasa persatuan luar biasa. Semoga tim penilai dapat betul-betul membawa apa yang diinginkan masyarakat,” kata dia.

Dalam rangka melakukan evaluasi/ penilaian lomba desa esensi yang ingin diraih ialah meningkatkan silahturahmi dan kembali memperbaiki semangat gotong royong yang akhir-kahir ini mulai luntur. Dan sesuai dengan amanat PP 43 tahun 2014 tentang UU Desa, Sujoko menganggap mengenai program pemerintahan desa, program pembangunan, semua sudah ada dan berjalan.

Kades Krambilsawit, Wagiya mengaku, hambatan yang dihadapi dalam melakukan pembangunan di Krambilsawit sangat kompleks, diantaranya, rendahnya PAD, Kapasitas SDM aparatur Pemdes, lembaga desa dan pelaku usaha yang ada belum optimal.

“Pada sektor pertaian, sebagian besar lahan masih tergantung dengan curah hujan. Kemudian pada sektor peternakan kendala serius ada pada ketersediaan Hijauan Makanan Ternak (HMT) pada musim kemarau,” ulas dia. (Kandar)

Komentar

Komentar