Desa Budaya Menjadi Benteng Budaya dan Paket Wisata Budaya

oleh -
Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Kabupaten Gunungkidul, Saryanto. Foto : Atmaja
iklan dispar
Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Kabupaten Gunungkidul, Saryanto. Foto : Atmaja
Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Kabupaten Gunungkidul, Saryanto. Foto : Atmaja

PALIYAN, (KH) — Desa budaya selain menjadi landasan kelestarian budaya jawa, juga menjadi sebuah benteng antara  budaya lokal dan budaya barat. Sampai saat ini sebagian besar pemuda masih cenderung menyukai budaya barat dibanding dengan budaya lokal.

Hal ini menjadi tugas pemerintah dan peran desa budaya untuk dapat mengembangkan dan melestarikan kebudyaan, khususnya kepada pemuda di Gunungkidul. Berbagai pertunjukan kesenian yang diadakan tidak lain sebagai salah satu pembangkit semangat kaum muda untuk ikut melestarikan budaya maupun kesenian lokal.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Kabupaten Gunungkidul, Saryanto mengatakan, perlu menjadi perhatian para pemuda; agar para ikut berperan serta dalam pengembangan budaya dan kesenian di Gunungkidul. “Agar kelestarian budaya dan kesenian tetap terjaga, salah satunya dengan adanya regenerasi,” katanya, Rabu (25/03/2015) malam.

Selain sebagai benteng antara budaya lokal dengan budaya barat, kebudayaan dan kesenian dapat dijadikan sebagai penunjang perekonomian warga dengan cara mengemas sebuah budaya dan kesenian yang ada. Bisa dijadikan paket wisata budaya.

“Misal, latihan gamelan dan tari bisa dijadikan sebuah paket wisata budaya. Setiap desa budaya yang ada di Gunungkidul akan mendapatkan paket balai budaya. diharapkan pada tahun ini semua balai budaya dapat selesai dibangun,” paparnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, harus ada kemauan dari seluruh lapisan masyarakat untuk mengembangan desa budaya. Ini modal penting, agar ke depan desa budaya dapat dijadikan sebagai paket wisata budaya.

“Kepada Generasi muda, agar semangat melestarikan kebudayaan di masing-masing daerah. Karena kalau bukan kita, siapa lagi ? kalau bukan sekarang, kapan lagi? desa budaya kita bisa berkembang menjadi lebih baik,” tandas Saryanto. (Atmaja)

Komentar

Komentar