Dampak Badai Rammasun, Gunungkidul Diperkirakan Hujan

oleh -
kadhung tresno

WONOSARI, kabarhandayani.– Hujan yang mengguyur sebagian besar wilayah Gunungkidul dari hari minggu kemarin disinyalir karena gangguan cuaca jangka pendek. Intensitas air hujan dua hari belakangan ini memang membuat sebagian warga Gunungkidul kebingungan.

Pasalnya hujan yang turun terjadi pada musim kemarau, Gunungkidul yang tadinya panas karna musim kemarau tiba-tiba menjadi dingin seketika disertai hujan dengan intensitas sedang. Bahkan para petani juga mengira bahwa ini sudah memasuki musim penghujan.

Suradi (56) warga Sodo, Paliyan mengaku telah menanam benih jagung di sebagian ladangnya. “Hujannya sudah dua hari tidak ada panas, ya semoga saja ini memang sudah musim hujan,” katanya.

Ditemani oleh istri dan anaknya, Suradi sudah dari kemarin pagi menanam jagung. Selain Suradi ada pula petani lain yang menyangka saat ini sudah memasuki musim penghujan. Menurut Sarmilah (53) warga Wunung, Wonosari yang juga menanam jagung, musim sudah tidak bisa ditentukan lagi. “Kalau memang tidak jadi musim penghujan ya tidak apa-apa, karena tanaman jagung nantinya juga bisa dijadikan pakan sapi,” katanya. 

Namun menurut Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul Budiharjo, hujan yang terjadi karena adanya ganguan cuaca jangka pendek bukan karena musim penghujan yang maju. “Ini masih musim kemarau, hujan yang terjadi karena dampak dari badai rammasun,” paparnya.

Kepada KH, Budiharjo menambahkan, pihaknya telah mendapat info dari BMKG bahwa hujan kali ini merupakan dampak dari badai tropis Rammasun di Filipina, yang menyebabkan perubahan pola angin dan terkumpul awan di DIY sampai 3 hari kedepan. “Kemungkinan sampai 3 hari ke depan Gunungkidul masih diguyur hujan, masyarakat dihimbau supaya berhati-hati akan cuaca yang sering berubah-ubah,” pungkas Budiharjo. (Atmaja/Hfs)

Komentar

Komentar