Buang Gengsi, Delapan Pemuda Beternak Kambing Perah

oleh -
Ternak kambing
Ahmad Yasin berada di kandang Sinambifarm. (KH)

WONOSARI, (KH),– Lulusan sarjana berkarir di perusahaan atau kerja kantoran masih menjadi ukuran ideal masyarakat umum. Tapi, bagi 8 pemuda yang tergabung dalam Sinambi Farm, stereotipe tersebut tak berlaku.

Mereka memilih mendirikan Sinambifarm, kelompok usaha peternakan kambing perah. Sinambifarm lahir dari sekelompok pemuda dengan latar belakang berbeda-beda dan sama sekali tak berkaitan dengan peternakan.

“Sebelumnya diantaranya berkarir dibidang IT, maintenance serta pengelolaan website. Sebagian juga bekerja kantoran,” kata Manajer Sinambifarm, Ahmad Yasin, Selasa (8/2/2022) ditemui di komplek kandang sekaligus sekretariat di Padukuhan Sumbermulyo, Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul.

Sinambifarm digagas tak lama pasca pandemi COVID-19 merebak. Pasang surut pengelolaan website yang mengandalkan pemasukan dari adsense serta jasa yang lain yang relevan, membuat beberapa diantara mereka menggagas bisnis baru.

Mereka yang terikat atas dasar pertemanan lantas berembug. Ada beragam ide yang diproyeksikan akan menghadirkan pemasukan dalam tempo harian. Meski sebagian diantara mereka merupakan lulusan sarjana, namun bidang peternakanlah yang mereka pilih.

“Kami memilih beternak kambing perah. Modalnya hasil kami patungan termasuk keuntungan dari pengelolaan website. Jumlah yang disetor masing-masing anggota jumlahnya berbeda-beda. Ada satu yang mendominasi jumlah permodalan, atau jadi investor,” tutur Yasin.

Besaran modal yang disetor oleh tiap anggota menjadi nilai saham. Semua menyepakati pengelolaannya dilakukan secara profesional.

“Kami ini investor sekaligus pekerjanya. Prospek ternak kambing perah dengan produk susu kami nilai peluang pengembangnnya cukup terbuka,” lanjutnya.

Mereka sepakat tak memilih ternak kambing dengan skema penggemukan, sebab profit yang diperoleh jangka waktunya lebih lama. Sedangkan susu hasil perahan hasilnya daily atau harian.

Dalam memulai usaha peternakan kambing perah, mereka melakukan pendalaman sekaligus penyesuaian mengenai tantangan dan peluang. Diantaranya melakukan observasi ke usaha sejenis di wilayah Sleman.

Ternak kambing
Proses pemerahan susu kambing di Sinambifarm. (KH/ Kandar)

Pilihan lantas ditentukan. Jenis kambing sebagai penghasil susu kemudian dibeli. Ada kambing peranakan etawa (PE), Saanen, dan Sapera atau Basari.

“Sekarang punya 90-an kambing, mayoritas jenis Sapera. Sebagian yang lain merupakan persilangan Sapera dengan jenis lokal atau Jawa Randu. Sebagian kecil jenis PE dan Saanen,” ungkap Yasin.

Untuk menghemat pengeluaran modal, belasan kambing periode pertama dibeli secara bertahap. Kemudian mereka menciptakan indukan baru dengan mengawinkan kambing jenis Sapera dan Jawa Randu. Hasil persilangan Sapera dan Jawa Randu menghasilkan sekitar 30-an indukan. Sementara untuk peranakan yang berkelamin jantan dijual setelah usia dewasa.

Pemuda sarjana Geografi ini menuturkan, selain pengadaan kambing, modal tersedot cukup banyak guna pembuatan kandang panggung, sekretariat, ruang produk, sarana pengolahan pupuk serta penyiapan lahan penanaman pakan.

Learning by doing atau belajar sambil praktik yang dijalankan tak bisa lepas dari risiko. Pernah Sinambifarm kehilangan 15 ekor peranakan kambing karena mati. Penyebabnya, kandang diawal berdiri sekitar September 2021 belum memadai. Sehingga saat hujan mengguyur menyebabkan peranakan kambing mati.

Sejauh ini, selain memasarkan susu murni dan produk turunan berupa susu kemasan dengan 4 varian rasa, Sinambifarm juga menjual pupuk, kambing jantan hingga sesekali waktu menjual pakan.

“Dari penjualan susu, pemasukannya sekitar Rp9 juta. Saat ini masih belum menutup biaya operasional. Memang masih rintisan, produski susu juga belum maksimal. Dalam sehari masih sekitar 15 liter. Kami sedang menyiapkan ruang pengolahan susu. Target kami 2022 ini perhari mencapai 40-an liter,” papar pemuda dari Banyusoca, Playen ini.

Berdasar kalkulasi, Sinambifarm akan menghasilkan keuntungan bagi pendiri sekaligus karyawan kurang lebih setelah berjalan selama 5 tahun.

Sembari menyiapkan ruang dapur pengolahan produk, mereka saat ini juga mengurus izin edar Makanan Dalam (MD) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sementara waktu, dalam membuat sampel produk varian rasa, Sinambifarm bekerjasama dengan kelompok usaha di wilayah Sleman.

“Konsumsi susu kambing harian belum familiar, kedepan kami lakukan edukasi pasar agar susu kambing bisa menjadi tren konsumsi pangan sehat serta digemari anak muda. Branding, packaging dan harga akan kami sesuaikan,” imbuh dia.

Sementara ini susu masih banyak diambil pemelihara peranakan kambing untuk kontes. Satu anak kambing kebutuhannya cukup banyak, mencapai 4 hingga 5 liter perhari. Sinambifarm mematok harga Rp20 ribu untuk 1 liter susu perah murni. Adapun yang sudah diolah dengan varian rasa Rp12.000 untuk 250 ml.

“Susu kami sesekali juga diambil pembuat kefir dan yogurt. Kami yakin jika nanti produksi sudah optimal kemudian diikuti upaya marketing, produk susu dan turunannya mudah diterima pasar,” kata Yasin optimis.

Selaku manajer, dia tak hanya melakukan manajemen aspek bisnis semata. Aspek lain termasuk dinamika kelompok juga menjadi perhatian serius. Dia tak memungkiri, merintis usaha bersma dengan anggota yang rata-rata berusia muda rentan bersinggungan dengan letupan ego dan idealisme. Namun, sejak awal segenap risiko telah dipertimbangkan secara matang. Ada batasan-batasan, kesepakatan dan aturan yang dibuat dan dipahami bersama.

Ternak kambing
Susu kambing dengan aneka varian rasa produk dari Sinambifarm. (KH/ Kandar)

Dia cukup yakin, Cundoko Agil, Alif Budiman, Eko, Ipung Noferian, Hastapa Adi, Abidin, Muarif Priyambudi, Nono, serta Kholiq Abidin mampu memegang komitmen untuk tumbuh dan berkembang bersama.

Bendahara Sinambifarm, Sundoko Agil menambahkan, sejauh ini pemasaran tak memgalami kendala. Justru yang masuh menjadi PR, yakni menaikkan jumlah produksi susunya.

“Upaya pemasaran, selain secara langsung melalui kenalan dan komunitas, serta event pameran skala lokal, juga memanfaatkan media sosial,” jelasnya.

Kedepan, sambung Agil, pemasaran online akan lebih banyak dilakukan diantaranya bergabung sebagai mitra di berbagai platform marketplace.

Disinggung mengenai pilihannya bergabung dengan Sinambifarm, ia tak banyak menemui kendala. Hanya saja memang butuh penyesuaian.

“Dulu kerja di kantor, kali ini butuh penyesuaian fisik dan lingkungan kerja. Tapi tidak menjadi soal,” tandasnya.

Senada dengan Yasin, Sinambifarm diyakini akan tumbuh dan menjadi industri pangan yang semakin kompetitif. Selain spirit belajar dan kerja yang datang dari anggota berusia muda, banyak aspek pendukung lain yang mampu membuka peluang skala usaha semakin besar, antara lain, jaringan komunitas, pengalaman bidang multimedia dan website, serta sistem peternakan yang modern. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar