Bidikmisi Antarkan Putri Tukang Batu Kuliah DI UNY

oleh -
iklan dispar

WONOSARI, kabarhandayani— Biaya Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi (Bidikmisi) adalah bantuan biaya pendidikan mereka yang memiliki potensi akademik memadai  namun  tidak mampu secara perekonomian.
Secara ketat dilakukan seleksi kepada mereka yang benar-benar mempunyai kemauan untuk menyelesaikan pendidikan tinggi. Selain mendapat biaya penyelenggaraan pendidikan, setiap penerima akan mendapat Rp 600 ribu tiap bulan untuk biaya hidup.
Bidikmisi berupa bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan dan bantuan biaya hidup. Ke depan diharapkan dapat memutus mata rantai kemiskinan. Seperti pemilik nama lengkap Shoim Tri Asih, remaja asal Padukuhan Ngaliyan, Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari ini akan merasakan belajar di bangku perkuliahan.
Melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Putri seorang tukang batu ini lolos diterima di Uneversitas Negeri Yogyakarta (UNY). Ia memang salah satu alumni SMKN 1 Wonosari yang berprestasi, di kelas 3 semester terakhir masih menempati peringkat satu.
Suliyem, ibu kandung Asih seakan tak percaya, putri bungsunya dapat melanjutkan ke perguruan tinggi, “sebelum pengumuman, malamnya saya tidak bisa tidur.  Setelah mendengar berita diterima, saya sempat menangis,” ucapnya bersyukur pada Minggu,10/8/2014.
Asih sendiri merasa senang dan sangat bangga dapat melanjutkan kuliah, sebab jika tidak diterima,  Ia memilih untuk bekerja setelah lulus dari SMK. “semenjak tim survei dari UNY datang ke rumah, saya sendiri tidak optimis, kalau tidak diterima ya kerja saja,” ujarnya.
Doa serta dukungan diberikan sepenuhnya oleh Suliyem kepada Asih.  Dengan kuliah semoga kelak di kemudian hari putrinya mampu membawa keluarganya dalam kemapanan. “kalau harus membiayai kuliah,  saya keberatan. Mudah-mudahan cita-cita anak saya tercapai,” harapnya.
Di bangku kuliah, Jurusan yang diambil masih berkaitan ketika di SMK.  Ia masuk jurusan Administrasi Perkantoran (AP) ketika SMK, lalu akan konsentrasi belajar Pendidikan Administrasi Perkantoran (PADP) di UNY. “Saya ingin jadi guru,” ucapnya malu. (Kandar/Tty)

Komentar

Komentar