Loncat ke konten
Menu Mobile
kabarhandayani.com
  • Home
  • Flash
  • Humaniora
  • Pariwisata
  • Edukasi
  • Lingkungan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Sehat
  • Sains & Tekno
  • Regional
  • Opini
  • Historia&Mitologi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Nasional
  • Politik
  • Seni Budaya
Konten Spesial
HILLSI Gunungkidul Didorong Siapkan Tenaga Kerja Sesuai Kebutuhan Industri RSUD Wonosari Luncurkan Klinik SEKAR, Mulai Layani Perawatan Luka Diabetes Karang Taruna Gunungkidul Salurkan 100 Tangki Air Bersih, Sembako hingga Pakan Ternak Suara Anak Muda Gunungkidul soal Kesehatan Mental, PRYAKKUM Dorong Aspirasi Jadi Kebijakan Dukung Veda Ega Pratama di Mandalika, Pemkab Gunungkidul Gelar Nonton Bareng
Beranda Humaniora Kampung Pitu (1): Komunitas Adat di Desa Nglanggeran

Kampung Pitu (1): Komunitas Adat di Desa Nglanggeran

Gambar Gravatar
KH
3 Februari 201525 Maret 202115922 Dilihat

Penulis: Hadi Risma, Penyuluh Budaya Kemendikbud RI

Kampung Pitu adalah sebuah komunitas adat yang masih tetap eksis di tengah gempuran budaya masyarakat yang semakin modern. Komunitas adat ini berada di dataran tinggi Pegunungan Nglanggeran. Tepatnya di Padukuhan Tlogo, Desa Ngalanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul.

Bacaan Lainnya
  • Dinsos DIY Membuat Puluhan Rumah Bagi Gepeng di Nglanggeran
  • Kampung Tujuh KK, Salah Satu Keunikan di Desa Nglanggeran
  • Kampung Pitu (2): Masih Menjaga Tradisi Sampai Kini

Menurut penuturan sesepuh adat, Mbah Yatno Rejo, komunitas ini sudah ada sejak dahulu. Beliau sendiri adalah sesepuh adat generasi ke-empat. Diperkirakan keberadaan komunitas ini sudah ada di Padukuhan Tlogo sejak 200-an tahun yang lalu.

Sebelum Kampung Pitu menjadi hunian penduduk, kampung ini adalah hutan belantara. Konon di hutan ini terdapat sebuah pohon langka bernama pohon kinah gadung wulung. Selain terbilang langka, pohon ini juga menyimpan sebuah pusaka yang menurut cerita memiliki kekuatan besar. Pihak keraton yang mengetahui hal tersebut, langsung mengirim utusan ke Gunung Nglanggeran untuk menjaga, membersihkan daerah sekitar pohon dan merawat pusaka yang berada di dalamnya.

Makam Mbah Ira Dikrama Foto : Hadi Risma

Untuk mendapat orang terbaik, pihak keraton kemudian membuat sayembara untuk menentukan siapa yang akan berangkat ke Gunung Nglanggeran. Bagi siapapun yang sanggup melaksanakan tugas dari keraton, maka akan diberi tanah secukupnya untuk anak dan keturunannya. Pusaka tersebut menarik banyak orang untuk mendapatkannya. Dari beberapa  orang, hanya Eyang Ira Dikrama yang mampu menjalankan perintah dari Keraton. Setelah Eyang Ira Dikrama berhasil masuk hutan dan mengamankan pusaka yang berada di dalam pohon kinah gadung wulung, selanjutnya pusaka tersebut disimpan di Keraton Yogyakarta.

Akhirnya, setelah itu banyak empu dan orang sakti yang berdatangan ingin tinggal di daerah Tlogo, namun hanya tujuh orang yang kuat hidup. Sisanya meninggal, karena tidak kuat dengan efek dari benda pusaka tersebut yang masih memiliki kekuatan supranatural yang tinggi.

Jumlah kepala keluarga (KK) yang tinggal di Kampung Pitu dari dahulu hingga sekarang tetap berjumlah tujuh, tidak kurang tidak pula lebih. Apabila dari keturunan mereka sudah menikah dan ingin mendirikan rumah dan KK sendiri, maka harus keluar dari sekitar Padukuhan Tlogo. Kalaupun tetap ingin tinggal di sekitar Tlogo, maka harus menunggu sampai ada kepala keluarga yang meninggal terlebih dahulu.

Menurut cerita, bila ada seorang warga Kampung Tujuh yang mendirikan bangunan rumah dan jumlah KK lebih dari tujuh, maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kepala keluarga sering sakit-sakitan atau tidak betah sehingga ingin pergi dari rumahnya. Bahkan, bisa saja ada kejadian gaib yang mengganggu kehidupannya, lebih parah lagi bisa mengakibatkan kematian. Keanehan tersebut masih ada sampai sekarang. Hal ini menjadikan kawasan Tlogo terkesan unik dan sakral.

Itulah sejarah singkat, mengapa kampung tersebut disebut Kampung Pitu, karena memang penduduk yang berada di pemukiman ini berjumlah tujuh kepala keluarga (7 KK). Anehnya jumlah 7 KK itu tidak pernah berkurang dan tidak pula bertambah. Dari dahulu hingga sekarang jumlahnya tetap 7 KK.

Menurut penuturan sesepuh adat, pernah ada masyarakat luar yang mencoba tinggal di Kampung Pitu, namun mereka tidak bertahan lama. Terlepas dari hal sakral dan mitos tentang Kampung Pitu, hal yang menjadi faktor utama orang di luar kampung tidak bisa bertahan lama di Kampung Pitu adalah faktor geo-ekonomi.

Perkampungan ini terletak di dataran tinggi yang sulit diakses. Jalan menuju ke lokasi terbilang sulit dijangkau. Kendaraan roda empat bisa dipastikan tidak bisa memasuki perkampungan ini. Jarak antara rumah satu dengan rumah lainnya sangatlah jauh. Di kampung ini tidak ada toko kelontong ataupun warung yang menyediakan kebutuhan sehari-hari, sehingga untuk memenuhi kebutuhan pokok warga harus keluar kampung dan berjalan berkilo-kilo menuju toko di luar kampung.

Baca artikel selanjutnya: Kampung Pitu (2): Masih Menjaga Tradisi Sampai Kini

Berbagi artikel melalui:
       

Komentar

Komentar

Kampung PituPathukTlogo
Sebarkan

Navigasi pos

Pos sebelumnya Kandang Sapi Terletak Jauh dari Pemukiman
Pos berikutnya Kampung Pitu (2): Masih Menjaga Tradisi Sampai Kini

Pos terkait

  • Karang taruna Gunungkidul

    Karang Taruna Gunungkidul Salurkan 100 Tangki Air Bersih, Sembako hingga Pakan Ternak

  • Penyintas perundungan

    Pernah Dirundung hingga Bereaksi Emosional, Aji Kini Mendapat Pendampingan Medis dan Rumah Layak Huni

  • Jamkesus Terpadu Hadir di Gunungkidul, Warga Disabilitas Dapat Pemeriksaan hingga Alat Bantu

  • rtlh

    Sambangi Lansia Sebatang Kara di Ponjong, Bupati Gunungkidul dan Baznas Siapkan Bedah Rumah

  • Gema Hari Kartini 2026: Meneguhkan Peran Strategis Perempuan di Bumi Handayani

  • Dompet Dhuafa Yogyakarta Salurkan Bantuan Bagi Fendi, Bocah 8 Tahun Putus Sekolah yang Rawat Sang Ibu

TERBARU

  • HILLSI Gunungkidul
    Regional23 Oktober 2026
    HILLSI Gunungkidul Didorong Siapkan Tena…
  • Klinik SEKAR RSUD Wonosari
    Sehat19 Oktober 2026
    RSUD Wonosari Luncurkan Klinik SEKAR, Mu…
  • Karang taruna Gunungkidul
    Humaniora19 Oktober 2026
    Karang Taruna Gunungkidul Salurkan 100 T…
  • kesehatan mental
    Sehat17 Oktober 2026
    Suara Anak Muda Gunungkidul soal Kesehat…
  • Veda
    Olahraga12 Oktober 2026
    Dukung Veda Ega Pratama di Mandalika, Pe…

TERPOPULER

  • sapi
    1
    Ragam496765 Dilihat
    Cara Membuat Sapi Betina Cepat Kawin Sec…
  • 2
    Historia & Mitologi435780 Dilihat
    Minggu Pahing Dipilih sebagai Hari Baik …
  • 3
    Flashnews433500 Dilihat
    Berdalih Punya Konsep Sendiri Kembangka…
  • 4
    Humaniora, Seni Budaya326135 Dilihat
    Mengenang Budi Baik Ki Seno: 8 Bulan Abs…
  • 5
    Humaniora322291 Dilihat
    Apa Beda Caos dan Paring?

Topik Populer

  • Gunungkidul
  • polres gunungkidul
  • wonosari
  • wisata gunungkidul
  • kecelakaan lalu lintas

RSS feed: GUNUNGKIDULAN.COM GUNUNGKIDULAN.COM

  • Pawon
  • Petak Lahan Pertanian Kawasan Karst Gunungsewu
  • Camilan Puli Tempe Bu Sukemi Semanu
  • Mblusuk ke Kampung Segun Klawoton Sorong
  • Teluk Dorehkar Raja Ampat
  • Selalu Ada Pilihan

Kabarhandayani on FB

kabarhandayani.com
  • Tentang Kami
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Ketentuan Penggunaan
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Indeks
  • Redaksi
  • Pasang Iklan

Jaringan Social

  • Facebook
  • Instagram
  • Youtube
  • Tiktok
  • RSS
(c) 2014-2026 kabarhandayani.com. All right reserved