Lestarikan Kearifan Lokal, Dispussip Gunungkidul Gelar Bimtek Kepenulisan Budaya untuk Penulis Pemula

Peserta Bimtek Kepeulisan Berbasis Konten Budaya Lokal antusias mendengarkan penjelasan nara sumber. (KH)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispussip) Kabupaten Gunungkidul secara resmi menggelar acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal. Kegiatan luring yang berlangsung selama tiga hari ini, mulai dari Selasa hingga Kamis (19–21 Mei 2026), bertempat di Ruang Rapat Utama Lantai 3 Gedung Dispussip Gunungkidul.

Acara ini ditujukan untuk memfasilitasi 50 peserta terpilih yang terdiri dari unsur pustakawan, pengelola perpustakaan, pegiat literasi, mahasiswa, hingga masyarakat umum se-Kabupaten Gunungkidul. Mereka berhasil lolos setelah melalui tahapan seleksi naskah awal yang ketat dari total pendaftar sejak pertengahan Maret lalu.

Bacaan Lainnya

Kepala Dispussip Kabupaten Gunungkidul Oneng Windu Wardana dalam sambutan pembukaannya menyampaikan apresiasi yang mendalam atas antusiasme para peserta. Dirinya menekankan pentingnya mendokumentasikan kekayaan tradisi lisan dan sejarah lokal dalam bentuk tulisan yang kreatif.

“Gunungkidul ini kaya akan budaya, tradisi, dan kearifan lokal yang belum semuanya tergali. Melalui bimbingan teknis kepenulisan ini, kita tidak hanya ingin melahirkan para penulis kreatif yang baru di daerah, melainkan juga berkomitmen membangun ekosistem literasi yang kuat serta memastikan sejarah dan nilai-nilai lokal kita tetap abadi dan bisa dibaca oleh generasi masa depan,” ujar Kepala Dispussip Gunungkidul dalam pidato pembukaannya.

Program ini dapat terlaksana berkat kerja sama sinergis dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) melalui alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) Non-Fisik Tahun Anggaran 2026. Melalui program stimulus ini, para penulis pemula difasilitasi penuh untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas mereka.

Selama tiga hari, seluruh peserta dibekali materi intensif dari sembilan narasumber berkompeten yang terdiri dari kalangan penulis, akademisi, antropolog, hingga praktisi media. Beberapa materi pokok yang diberikan meliputi dasar-dasar kepenulisan oleh Drs. Herry Mardianto, pengantar budaya dan kearifan lokal oleh Hasta Indriyana, hingga materi pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam kepenulisan yang disampaikan oleh Eko Triono, M.Pd.

Selain itu, peserta juga dibekali teknik pengumpulan data oleh Redaktur Kedaulatan Rakyat Latief Noor Rochmans, pengolahan data oleh antropolog Transpiosa Riomandha, teknik esai oleh Dr. Ari Kinoysan Wulandari, serta proses reviu dan finalisasi naskah bersama Ummi Azzura Wijana, Abdurrohman Azzuhdi, dan M. Hariwijaya.

Pasca-pelatihan luring ini, para peserta masih akan melewati tahapan penelaahan, pengumpulan tugas, hingga evaluasi mandiri. Luaran akhir dari kegiatan ini ditargetkan berupa penerbitan sebuah Buku Antologi Konten Budaya Lokal yang menghimpun 50 karya terbaik dari seluruh peserta terseleksi, bekerja sama dengan Perpusnas Press pada Juni 2026 mendatang.

Khoirul Ma’sumah, salah satu peserta Bimtek asal SDN Kwangen. (KH)

Sementara itu, salah satu peserta perwakilan dari guru SD Negeri Kwangen, Kapanewon Semanu, Khoirul Ma’sumah mengungkapkan rasa syukur dan antusiasmenya atas penyelenggaraan bimtek ini. Ia mengaku mendapatkan banyak ilmu baru yang sangat berharga untuk mengembangkan bakat menulisnya.

“Sebagai pemula yang baru tertarik dengan dunia kepenulisan, saya merasa pengetahuan saya tentang cara menulis yang baik dan menarik masih sangat minim. Awalnya saya hanya mencoba-coba mengirimkan naskah setelah diutus oleh Dinas, dan alhamdulillah ternyata lolos seleksi. Lewat bimtek ini, saya belajar banyak sekali hal yang sebelumnya belum saya ketahui,” ungkap Irul saat ditemui di lokasi acara, Kamis 21 Mei 2026.

Dalam seleksi naskah tersebut, Irul memilih untuk mengangkat fenomena lokal yang sangat dekat dengan kesehariannya sebagai seorang pendidik, yaitu tantangan pelestarian bahasa Jawa di kalangan Generasi Z (Gen Z) dan Gen Alpha.

“Awalnya sempat terpikir untuk menulis tentang Geopark atau cerita rakyat, tetapi saya kesulitan menemukan data yang akurat. Akhirnya saya memilih fenomena penggunaan dialek bahasa Jawa Gunungkidul pada murid-murid saya sehari-hari. Faktanya, anak-anak sekarang kalau mengobrol dengan temannya lebih sering memakai bahasa Indonesia. Sebaliknya, ketika berbicara dengan bapak ibu guru di sekolah, mereka justru sering keliru menggunakan bahasa ngoko (kasar).”

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Irul menulis naskah ini dengan motivasi untuk mendorong pembiasaan berbahasa yang baik dan sopan, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga. Di sekolah tempatnya mengajar, para guru mulai menerapkan metode unik di mana mereka tidak akan merespons siswa yang berbicara menggunakan bahasa ngoko atau kurang santun. Melalui tindakan itu, siswa secara spontan akan mengoreksi diri dan belajar menggunakan unggah-ungguh bahasa Jawa yang benar.

“Mungkin ini terlihat seperti langkah kecil, tetapi saya yakin jika semua sekolah menerapkan pembiasaan yang sama secara konsisten, hal ini akan membawa dampak yang sangat besar bagi kelestarian bahasa Jawa di masa depan,” pungkasnya optimistis

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait