GUNUNGKIDUL, (KH),– Siapa sangka, limbah galon bekas yang biasanya berakhir di tempat sampah, kini menjadi mesin pencetak rupiah bagi warga di Pacarejo, Kapanewon Semanu. Melalui Kelompok Kampung Tangguh Kali Suci, para petani di wilayah ini berhasil membuktikan bahwa sistem pertanian tepat guna mampu menghasilkan keuntungan bersih yang sangat menjanjikan.
Fokus pada efisiensi biaya menjadi kunci utama kelompok ini. Dengan memproduksi media tanam dan pupuk organik secara mandiri, biaya operasional per pohon dapat ditekan hingga titik terendah.
Ketua kelompok, Tri Madi Wiyono, membedah hitung-hitungan ekonomi dari budidaya Melon Hami yang mereka kembangkan. Setiap pohon yang ditanam di dalam galon hanya membutuhkan biaya operasional sebesar Rp8.000.
“Untuk satu buah melon yang kita panen, harga jual kotornya mencapai Rp28.000. Setelah dikurangi biaya operasional Rp8.000, petani mengantongi untung bersih Rp20.000 per galon atau per pohonnya,” terang Tri Madi baru-baru ini.
Jika seorang anggota kelompok menjalankan program SERGAP (Gerakan Seratus Galon Tanam) dengan skala 400 galon, maka potensi keuntungan bersih yang didapat mencapai sekitar Rp8 juta dalam sekali masa panen tiap 2,5 bulan. Angka ini tergolong fantastis mengingat lahan yang digunakan sangat terbatas dan beban kerjanya yang ringan.
“Jadi tinggal mau untung berapa, kalau mau lebih bisa tanam lebih banyak lagi,” imbuhnya.
Teknologi Kapilaritas: Solusi Hemat Air dan Tenaga
Keuntungan besar tersebut didukung oleh penggunaan teknologi kapilaritas. Galon dipotong menjadi dua; bagian bawah sebagai tendon air dan bagian atas sebagai wadah media tanam yang dihubungkan dengan kain sumbu.
Sistem ini tidak hanya menghemat air di wilayah Gunungkidul yang cenderung kering, tetapi juga memangkas waktu kerja. Pengisian air dilakukan melalui jaringan selang yang terintegrasi, sehingga petani hanya perlu membuka satu kran untuk menyiram ratusan galon sekaligus.

Strategi Gempur dan Sergap
Tri Madi membagi fokus kelompoknya menjadi dua lini utama:
-
Program GEMPUR (Gerakan Mandiri Dapur): Menanam sayuran untuk konsumsi sendiri guna memangkas pengeluaran belanja harian.
-
Program SERGAP (Gerakan Seratus Galon Tanam): Berorientasi bisnis dengan menanam minimal 100 galon per anggota untuk komoditas unggulan seperti Melon Hami dan Seledri.
Keberhasilan ini bermula dari pengamatan Tri Madi saat masih menjadi tukang ojek di Pasar Munggi sekitar tahun 2017-2018. Ia resah melihat sayuran di pasar lokal justru banyak dipasok dari luar daerah. Kini, melalui jaringan yang ia bangun, hasil panen kelompoknya justru mampu menguasai pasar lokal.
Salah satu anggota, Utaminingsih, merasakan langsung dampak ekonominya. Dengan menanam sekitar 100 galon seledri, ia mampu memanen sekitar 1 kilogram setiap hari untuk menambah penghasilan harian.
“Seledri dan aneka jenis sayuran lain untuk hasil harian, sementara melon untuk hasil bulanan,” tandas Tri Madi.
Kombinasi antara kemauan belajar, pemanfaatan limbah, dan perhitungan bisnis yang matang telah mengubah wajah pertanian di Kampung Tangguh Kali Suci menjadi sektor yang sangat menguntungkan dan patut dicontoh.





