Warisan Seni ‘Black Finit’ Terancam Digusur, Mahasiswa Flores di Yogyakarta Galang Donasi

Salah satu sudut Galeri Seni-Seni Banyak yang terancam ditutup. (ist)

YOGYAKARTA, (KH),– Sebuah ruang kreatif yang menjadi saksi bisu perjalanan seniman besar asal Maumere, mendiang Albert Gerson Unfinit atau yang populer dikenal sebagai Black Finit, kini berada di ujung tanduk. Galeri Seni-Seni Banyak yang terletak di Jalan Taman Siswa MG 2 No. 1274, Yogyakarta, terancam ditutup permanen akibat krisis pendanaan sewa bangunan.

Saat ini, sekelompok mahasiswa asal Flores yang menempuh studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tengah berjuang keras melakukan penggalangan dana. Mereka berupaya memastikan karya-karya orisinal Black Finit—mulai dari lukisan di dinding, kayu, kaca, hingga kanvas—tidak terusir dari “rumah” aslinya.

Black Finit (1983–2020) bukan sekadar musisi reggae. Ia adalah suara kuat dari Timur yang berhasil memadukan musik, seni rupa, dan isu sosial dalam satu napas. Alumnus SMPK Frater Maumere ini merantau ke Yogyakarta pada 2002 dan belajar seni dari jalanan hingga terinspirasi oleh maestro Affandi.

Di dunia musik, ia dikenal melalui album Kiri Kanan (2011) dan Digiyo Digiye (2015), serta kolaborasi ikonik bersama Heruwa ‘Shaggydog’ dalam lagu Bukan Puisi. Namun, di balik panggung musik, Black Finit adalah pelukis yang karya-karyanya diakui secara internasional.

Perwakilan mahasiswa ISI Yogyakarta yang kini merawat galeri tersebut mengungkapkan kegelisahan. Katanya, mempertahankan galeri ini adalah bentuk penghormatan bagi seniman Indonesia Timur yang berhasil menembus kasta seni rupa di kota besar.

“Kami tidak ingin jejak Kakak Black Finit hilang begitu saja. Beliau membuktikan bahwa anak Maumere bisa bicara banyak di kancah seni internasional tanpa harus punya nama besar atau gelar akademis,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa pengelola galeri, Dimas Abian belum lama ini.

Saat ini pihaknya sedang berpacu dengan waktu. Jika biaya sewa ini tidak tertutup, semua arsip dan karya yang sudah ditata kembali akan kehilangan rumahnya. “Ini bukan hanya soal bangunan, tapi soal menjaga identitas budaya kami di perantauan,” imbuhnya.

Galeri Seni-Seni Banyak: Kanvas Raksasa yang Terancam

Galeri Seni-Seni Banyak bukan sekadar ruang pameran formal. Tempat ini adalah rumah sekaligus studio tempat Black Finit menumpahkan imajinasinya. Keunikannya terletak pada teknik “melukai dinding” menggunakan paku atau pisau sebelum menyapukan cat, menciptakan tekstur yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

Kualitas karyanya bahkan mendapat pengakuan dari seniman internasional Mella Jaarsma. Jaarsma menyebut visual Black Finit memiliki kekuatan yang setara dengan nama-nama besar dunia seperti Jean-Michel Basquiat, Picasso, hingga Joan Miró.

Keluarga dan pengelola galeri kini membuka pintu bagi para kolektor dan penikmat seni. Karya orisinal Black Finit tersedia untuk dibeli maupun disewakan, di mana hasilnya akan dialokasikan untuk biaya pendidikan anak-anak mendiang Black Finit, keberlangsungan operasional galeri dan program kreatif seperti kelas musik, studio tato, hingga program kesehatan mental Grief Box.

Bagi masyarakat yang ingin membantu menyelamatkan warisan budaya ini atau ingin mengunjungi galeri di Jl. Taman Siswa MG 2 No. 1274, Yogyakarta, informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait