Seni Lukis Kapur Dari Gunungkidul Merambah Ke Luar Pulau

oleh
Adnan Yuniar Kumorojati, pelukis kapur dengan produk Handlettering dari Gunungkidul. KH

GUNUNGKIDUL, (KH),– Dahulu kapur dan papan tulis akrab dikenal sebagai sarana prasarana penunjang pembelajaran di sekolahan. Seiring waktu berjalan, kapur dan papan tulis mulai ditinggalkan. Keberadaannya digantikan kehadiran spidol dan whiteboard.

Kapur tak lantas ditinggalkan atau tak berguna sama sekali. Melalui tangan kreatif pemuda asal Gunungkidul, Yogyakarta, Adnan Yuniar Kumorojati, kapur dan papan tulis mampu menghasilkan karya seni yang diminati.

Ditemui di kediamannya, di Dusun Mulyosari, Desa Baleharjo, Kabupaten Gunungkidul, lelaki yang disapa Aat ini mengembangkan seni lukis kapur atau bisa disebut Chalkboard. Seni lukis kapur umumnya berupa karya Handlettering, seni menulis dengan berbagai jenis huruf yang indah.

“Mulai berkarya membuat seni lukis kapur atau yang sering disebut chalkboard sejak 4 tahun terakhir,” ujar lelaki berusia 38 tahun ini.

Ayah empat anak ini mengaku mencoba mengenalkan kembali alat tulis kapur dengan menghadirkan produk karya bernilai seni berawal dari iseng-iseng saja. Namun kebiasaannya menggambar atau menulis di papan tulis dengan kapur tersebut lama- kelamaan diminati masyarakat dengan berbagai kebutuhan. Awalnya, karya-karya Aat yang dibikin di upload di internet. Netizen yang melihat lantas tertarik dan melakukan pemesanan.

Handlettering yang biasa dibuat diantaranya ucapan selamat datang, wedding, ulang tahun dan berbagai karya seni tulisan kapur lainnya sesuai kebutuhan.

“Satu karya Chalkboard laku mulai dari Rp. 300 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung ukuran papan,” ungkapnya.

Belakangan, pesanan tak hanya datang dari lokal Gunungkidul saja. Karya Aat bahkan berulang kali dikirim ke luar pulau Jawa. Meski belajar seni lukis kapur secara otodidak, Aat sangat piawai menyelesaikan pesanan chalkboard.

Menurutnya, sebelum mahir, pembuatan Chalkboard membutuhkan banyak latihan. Asal teliti dan penuh konsentrasi, satu karya Handlettering tidak membutuhkan waktu yang lama. Satu karya Chalkboard ukuran kecil, hanya membutuhkan waktu kurang dari setengah jam.

“Melukis di papan tulis harus satu kali jadi, sebab bila terdapat kesalahan dan diluang akan mengurangi keindahan karya,” sambung Aat. Meski dibuat dari kapur, karya seni ini mampu bertahan dalam waktu yang cukup lama, selama tidak terkena air.

Hafid Nur, salah satu pemesan yang berhasil ditemui mengakui bahwa karya seni Chalkboard segaja ia pilih sebagai ucapan ulang tahun temannya karena anti mainstream. “Yang jelas berbeda dengan yang lain,” tukasnya. (Kandar)

Komentar

Komentar