Menghitung Penghasilan Fajar Sebagai Pengrajin Tusuk Sate

oleh
Produksi tusuk sate di kediaman Fajar. KH/ Kandar.

PONJONG, (KH),– Dalam hal konstruksi bangunan bambu sudah tidak umum lagi dipakai. Keberadaan kayu dan besi baja telah menggesernya. Demikian juga dalam hal mebelair, kayu lebih menjadi pilihan utama.

Bambu seolah terpinggirkan, sehingga nilai harganya cukup murah. Bahkan jika keberadaannya melimpah seolah menjadi sampah. Namun tidak demikian di mata Fajar Amarul Sidiq warga Padukuhan Sendang, Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Bambu menjadi sangat bernilai setelah mendapat sentuhannya.

“Bambu di daerah saya cukup melimpah. Saya berfikir keras agar bambu memiliki nilai tambah,” ujar Fajar belum lama ini.

Sebelum berwirausaha sebagai pengrajin tusuk sate atau bakso, Fajar bekerja di sebuah perusahaan berskala nasional. Bahkan jabatan yang diduduki sudah cukup mentereng. Namun kegelisahan tak ingin selalu menjadi pekerja tak henti menghantuinya.

Ke luar dari perusahaan kemudian mendirikan wirausaha benar-benar dilakukan pada Mei 2017 silam. Bidang yang dipilih juga tak ada kaitannya dengan bidang pekerjaan sebelumnya yang dijalani. Dirinya ingin tak sekedar berwirausaha, tetapi sesuatu yang dikerjakan merupakan hal baru di wilayahnya serta mampu memanfaatkan potensi di lingkungannya.

“Maka saya pilih membuat tusuk sate atau bakso dari bambu. Saya juga mengamati peluang dengan semakin banyaknya orang yang berjualan bakso bakar,” tutur Fajar mengisahkan.

Berbagai mesin untuk memproduksi bambu ia beli. Belajar membuat sekaligus memasarkan ia mulai. Selama enam bulan berproses tusuk sate dan bakso bikinan Fajar diterima pasar. Bahkan banyak pedagang telah rutin menerima hasil karyanya dalam setiap periode waktu tertentu.

Menurutnya, tusuk sate atau bakso merupakan produk ‘sekali pakai’ layaknya sedotan minum. Sehingga meski harganya terlihat murah, namum permintaan berulang secara terus menerus dapat memberi keuntungan yang tidak sedikit bagi Fajar.

Gambaran keuntungan dari usaha yang dijalankan dijelaskan, bambu satu batang dibeli seharga antara Rp. 10 hingga 15 ribu. Dari bambu satu batang tersebut mampu dibuat menjadi 15 kilogram  tusuk sate.

Berkat permintaan yang tinggi, dalam satu minggu penjualan tusuk sate mencapai 1,5 kuintal. Sementara setiap kilogram tusuk sate dijual dengan harga Rp. 16.000

Fajar melibatkan warga sekitar sebanyak 3 orang pria di bagian operator mesin produksi ditambah 4 perempuan di bagian sortir.

“Dalam satu hari biasanya menghabiskan bahan baku antara 2 hingga 2,5 batang bambu. Sehari dapat dibuat menjadi sekitar 38 hingga 40 kilogram tusuk sate. Hasil kotor untuk satu batang bambu mencapai Rp. 240.000. Kemudian dikurangi biaya operasional proses produksi dalam satu hari sekitar Rp. 150 hingga 200 ribuan,” rincinya.

Bapak satu anak ini bersyukur usahanya dapat memberikan penghasilan yang cukup bagi keluarganya. Disamping itu, dapat memberdayakan warga sekitar yang terserap sebagai tenaga kerja juga membuatnya bangga.

“Bambu di wilayah kami yang melimpah juga dapat masuk ke industri rumahan yang saya dirikan,” tukasnya. (Kandar)

Komentar

Komentar