Warga Tegalrejo Gari Berencana Gelar Ruwatan Cegah Gantung Diri

oleh -
Ruwatan. Dok: Antarafoto
iklan dispar
Ruwatan. Dok: Antarafoto
Ruwatan. Dok: Antarafoto

WONOSARI, (KH) — Masih terjadinya peristiwa pengakhiran hidup atau bunuh diri dengan cara gantung diri membuat resah warga Padukuhan Tegalrejo Desa Gari Wonosari. Peristiwa gantungdiri alm Tukini (37) beberapa hari lalu membuat warga diliputi rasa ketakutan. Seorang pedagang bakmi mengaku, ia terpaksa menutup usahanya, gara-gara pada malam hari, pedagang bakmi mendapat pesanan dari  Tukini. Setelah dipikir-pikir, pedagang bakmi teringat bahwa Tukini sudah meninggal, maka pesanan bakmi pun tak jadi dimasak.

Sementara pedagang Kupat Tahu mengaku, ia masuk rumah sakit gara-gara kedatangan almarhum Tukini. Sampai sekarang dirawat di RS Bethesda Selang Wonosari. Hal tersebut dikatakan Sri Subandini tetangganya.

Dari penelusuran KH, diperoleh informasi bahwa masyarakat di padukuhan tersebut melihat ada yang misterius dalam peristiwa gantung diri. Mereka menyatakan, setiap ada peristiwa gantung diri, di bawah lokasi gantung diri sudah tersedia “gelu” tanah gumpalan 3 biji, yang terpendam di bawah jenazah orang yang gantung diri. Apabila gelu ditemukan tidak akan memakan korban lagi. Kenyataannya di lokasi gantungdiri mbah Wongso (90), yang gantung diri di kandang sapi, ditemukan 3 gumpalan tanah yang biasa disebut gelu, dan diletakkan di bagian kepala sebagai penyangga kepala.

Sedang lokasi gantung diri Tukini di toko miliknya, ketika mau digali untuk menemukan gelu, gagal karena harus membongkar lantai keramik. Waktunya juga sudah terlalu lama dari kejadian gantung diri. Menurut cerita kalau gelu tersebut tidak ditemukan, akan mengajak korban lainnya, sesuai dengan posisi korban menghadap kemana.

”Tukini menggantung menghadap ke tenggara, terjadilah peristiwa gantungdiri dengan korban mbah Wongso, pamit kepada anaknya mau memberi makan sapinya, ternyata gantung diri di kandang sapi,” tambah Sujilah tetangga korban.

Menurut keterangan tetangga, almarhum Tukini tak mempunyai gelagat akan bunuh diri. Waktu kirab HUT Gunungkidul juga ikut kirab, hubungan dengan tetangganya juga baik, sayang belum diberi momongan perkawinannya dengan suaminya Jumeno. Sampai saat ini penyebab gantung diri belum diketahui. Peristiwa tragis tersebut sangat mengagetkan warga Padukuhan Tegalrejo.

Untuk menenteramkan warga, warga Padukuhan berencana akan melaksanakan ruwatan dengan menggelar Wayangan di Lapangan Tegalrejo Gari, pada hari Minggu (14/06/2015) dengan dalang dari Ngleri Playen. (Sarwo)

Komentar

Komentar