Umur Panen Cukup, Petani Tunggu Setelah Lebaran

oleh -
iklan dispar
SAPTOSARI, kabarhandayani.– Gunungkidul terkenal dengan sebutan kota Gaplek, karena ketela yang dibuat gaplek merupakan salah satu hasil utama petani sebelah selatan Kabupaten Gunungkidul. Saat ini sebenarnya sebagian besar tanaman ketela telah memasuki masa panen, namun sebagian besar petani menundanya untuk beberapa waktu ke depan.

Penuturan yang disampaikan Warijo, Sabtu (5/7/2014) petani asal Padukuhan Selang, Desa Monggol, Kecamatan Saptosari terkait penundaan panen tersebut dikarenakan dirinya sedang menjalankan ibadah puasa, ditambah lagi cuaca belakangan ini tidak mendukung, sering terjadi mendung.

“Sudah umur 9 bulan, sebenarnya sudah waktunya Nggaplek (panen ketela), tapi lagi puasa takutnya nggak kuat, kemaren masih sering mendung juga to,” ujarnya. Ia menambahkan, hujan susulan yang pernah terjadi mengakibatkan hasilnya menurun jika dibanding tahun lalu.

Warijo dan kebanyakan warga lebih memilih memanen setelah bulan Ramadhan, karena memanen ketela membutuhkan tenaga yang tidak sedikit, bahkan untuk mencabut satu pohon ketela kadang memerlukan tenaga dua orang dewasa.

Kemudian cuaca mendung juga menambah khawatir jika panen dilakukan, karena ketela yang di kupas jika tidak segera terkena intensitas panas matahari yang baik dapat menjadikan kualitas gaplek menurun, bahkan hal yang paling buruk dapat terjadi, ketela membusuk.

Sementara menurut penuturan salah satu pedagang pengepul hasil pertanian di kawasan Pasar Trowono, Paliyan, saat ini harga gaplek masih dalam keadaan yang wajar, tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu rendah.

“Kita masih membeli Rp 2.000,00 per Kg, tapi jika nanti panen serempak dilakukan, gaplek banyak yang dijual, harga dapat turun menjadi Rp 1.500,00 per Kg,” tandasnya. (Kandar/Hfs)

Komentar

Komentar