UGK Reklamasi Eks Tambang Demi Kelangsungan Siklus Hidrologi

oleh -
reklamasi
Penanaman pohon bambu di kawasan eks tambang oleh UGK. (KH/ Kandar)

PONJONG, (KH),— Wilayah Gunungkidul sebagian besar merupakan kawasan karst. Potensi batuan kapur dengan kandungan kalsium karbonat menarik minat banyak perusahaan melakukan kegiatan penambangan.

Wilayah-wilayah yang tidak masuk dalam kriteria Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) diijinkan untuk ditambang. Penambangan batu kapur dengan skala terbesar berada di wilayah Kalurahan Bedoyo, Ponjong, Gunungkidul. Penambangan oleh perusahaan-perusahaan di wilayah itu telah berjalan puluhan tahun.

Menyadari pentingnya keberadaan bentang alam di Gunungkidul, Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM) Universitas Gunung Kidul (UGK) menginisiasi kegiatan konservasi bekas tambang batuan karst di Gunungkidul.

Upaya memperbaiki kegunaan area bekas tambang yang pertama kalinya ini dilakukan UGK di Kalurahan Bedoyo. Sasarannya, area bekas tambang milik PT Sugih Alam Anugroho.

“Bedoyo menjadi penting diperhatikan. Karena menurut peta geologi, di bawah wilayah Bedoyo dan pegunungan seribu secara umum batuannya bersifat porous (berpori) dan berongga pada bagian bawahnya. Di bawah terdapat sungai bawah tanah. Kalau bukit dikepras massif maka berisiko mengganggu fungsi hidrologi diantaranya ketersediaan air di bawah tanah,” papar Penanggungjawab Program Reklamasi UGK, Drs. Pat Madyana, M.C.R.P., ditemui disela kegiatan penanaman bambu belum lama ini.

Sebagaimana diketahui, sungai bawah tanah menjadi salah satu andalan sumber air bagi kelangsungan hidup masyarakat diantaranya termasuk untuk kegiatan pertanian. Baik untuk saat ini hingga waktu yang akan datang.

Untuk itu, tandas Pat Madyana, demi memperbaiki kegunaan lahan eks tambang, mengembalikan vegetasi menjadi satu-satunya cara yang dapat diambil.

Tanaman Bambu Dinilai Cocok Untuk Kawasan Eks Tambang

universitas gunung kidul
Mahasiswa UGK terlibat dalam kegiatan reklamasi eks tambang. (UGK)

“Penghijauan didasarkan pada pengalaman di berbagai daerah atau provinsi. Lahan bekas penambangan mengalami kerusakan lingkungan yang cukup parah karena penambangan. Contohnya bekas tambang batu bara di Riau, tambang timah di Bangka Belitung dan batu bara di Kalimantan Timur,” ungkap Pat Madyana.

Panjang lebar dikatakan, daerah-daerah itu ditelantarkan dan dibiarkan tidak diurus selama bertahun-tahun. Sehingga sangat berdampak pada keseimbangan ekosistem. Hingga akhirnya ada kesadaran warga dan pemerintah daerah setempat untuk melakukan penghijauan atau reklamasi eks kawasan tambang. Kemudian setelah mencoba beberapa jenis tanaman, bambu dipilih sebagai tanaman yang dianggap paling cocok.

“Dari pengalaman di tiga kawasan itu lalu kita mencoba menggunakan bambu yang sama, yaitu antara lain bambu Petung, Wulung, Balkua, Tulda, dan Gigantis untuk dijadikan pohon penghijauan,” sambung dia.

Tahap awal, bantuan 1000 batang bambu dari PT Bambu Nusantara telah diterima Universitas Gunung Kidul. Untuk selanjutnya diserahkan kepada PT Sugih Alam Anugroho.

“Tanaman bambu ini mudah tumbuh. Prinsip yang pertama adalah kalau rumput saja bisa tumbuh di kawasan eks tambang maka bambu pasti bisa. Kedua bambu itu mempunyai perakaran yang menjalar dan meluas serta tahan cuaca. Meski di musim kemarau bambu dapat bertahan di daerah-daerah kering seperti eks kawasan tambang kapur di Gunungkidul,” urai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik ini menyebut alasan pemilihan tanaman bambu.

Penanaman bibit bambu, menurut dia tentu saja sangat mendukung kawasan sebagai water catcment di area bentang alam karst Gunung Sewu yang sudah sekian lama terdegradasi karena adanya penambangan batu kapur. Gerakan tersebut sebagai bentuk konkret dan manifestasi kepedulian seluruh warga kampus UGK dalam upaya konservasi alam dan lingkungan kawasan bentang alam karst Gunung Sewu.

ugk
Ketua LPPM Universitas Gunung Kidul, Septiono Eko Bawono, S.T., M.Sc., M. Eng, (KH/Kandar)

Senada dengan Pat Madyana, ketua LPPM UGK, Septiono Eko Bawono, S.T., M.Sc., M. Eng, menambahkan kegiatan konservasi lingkungan dengan penghijauan kembali bekas galian tambang batu karst di Bedoyo melibatkan mahasiswa. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, lingkungan menjadi penting dan menjadi prioritas dalam pembuatan kebijakan.

“kami berharap, konservasi yang dilakukan akan memberikan dampak pada pemulihan kembali lahan bekas tambang batu karst serta menumbuhkan kesadaran lingkungan kepada mahasiswa,” harap Septiyono.

Selain kepedulian pada lingkungan, kegiatan penghijauan juga menjadi bagian dari proses perkuliahan dalam hal pembangunan berkelanjutan dengan menempatkan ‘lingkungan’ menjadi isu utamanya.

Direktur Pelaksana PT Sugih Alam Anugroho, Siswo Saputro mengaku berterimakasih kepada civitas UGK berikut mahasiswa yang melaksanakan reklamasi lahan bekas tambang.

“Kawasan yang ditambang ada sekitar 5 hektar. Reklamasi sebelumnya pernah dilakukan tahun 1998 bersama UGM dengan penanaman Jati. Waktu-waktu berikutnya dengan pemerintah daerah dan Kodim menanam Sengon, Jati dan lain-lain,” kata Siswo Saputro.

Adapun saat ini, lahan bekas tambang yang sudah direklamasi mencapai luas hingga 2 hektar. Untuk kali ini pihaknya berharap dapat menyasar lahan hingga 1,5 hektar.

Ditandaskan, perusahaan yang ia jalankan memiliki komitmen melakukan perbaikan kegunaan area bekas tambang secara berkelanjutan. Di samping itu melalui program CSR perusahaan memiliki kegiatan social berupa bedah rumah, pendidikan serta santunan untuk anak yatim piatu hingga bantuan air pada musim kemarau. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar