Merespon tingginya kasus, pihaknya terus mendorong masyarakat untuk melakukan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan koordinasi lintas sektoral dari tingkat kabupaten hingga desa.
“Pencegahan bisa dilakukan dengan fogging dan PSN dengan program 3M (mengubur, menguras dan menutup) tempat-tempat yang berisiko menjadi sarang nyamuk,” paparnya.
Diungkapkan, sebaran wilayah endemik DBD tidak begitu mengalami perubahan dibanding tahun lalu. Wilayah Kecamatan dengan jumlah kasus tinggi diantaranya berada di Wonosari, Karangmojo, Ponjong dan Patuk.
Menurut Sumitro, jumlah awal tahun ini cukup jauh berbeda dengan kasus yang terjadi pada tahun 2019 lalu. Adapun dalam periode yang sama, jumlah warga terjangkit DBD tahun lalu sebanyak 192 warga.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Gunungkidul, Heri Nugroho meminta masyarakat memperhatikan kondisi lingkungan masing-masing dalam rangka mengantisipasi penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegypti ini. (Kandar)