Toko Salib, Toko Sepeda Legendaris di Kota Wonosari

oleh -
Salah satu Toko Salib yang berada di Jl. Baron, insert: Yanti, keturunan ke-4 pendiri Toko Salib. KH/ Kandar
kadhung tresno

WONOSARI, (KH)— Berbicara dunia persepedaan di Gunungkidul khususnya di Wonosari tidak lepas dari toko sepeda yang satu ini. Namanya akrab di telinga masyarakat dengan sebutan Toko Salib. Toko yang dibuka sejak tahun 1970-an ini dikenal oleh masyarakat sebagai toko penjual sepeda sekaligus suku cadangnya.

Yanti, anak ke-4 dari 6 bersaudara putra-putri pendiri Toko Salib menyebutkan, awal mula toko didirikan oleh ayahnya Salib (almarhum). Toko sepeda ini berawal dari sebuah bengkel sepeda di wilayah Karangmojo. Upaya pengembangan dilakukan oleh ayahnya, mulai dari jasa reparasi sepeda, jasa cat sepeda ontel juga dilayani, bahkan mulai menyediakan satu atau dua unit sepeda baru.

Melihat perkembangan usaha yang semakin baik, dibukalah cabang Toko Salib pertama di Wonosari. Seingat Yanti, sekitar tahun 1983, ayahnya mulai menyewa ruko sederhana di sebelah barat Taman Parkir depan Pasar Argosari Wonosari.

Di tempat baru tersebut, selain tetap membuka jasa bengkel sekaligus menyediakan berbagai suku cadang sepeda seperti gotri, slebor, berbagai jenis baut, rantai, pelumas, ban, dan lainnya, jumlah dagangan sepeda baru mulai banyak. Sementara itu, di Karangmojo usaha yang sama masih berjalan dengan ditambah toko kelontong.

Semenjak pembukaan cabang di Wonosari, perkembangan usaha semakin pesat. Tidak berselang lama, keluarga Salib mampu membeli tanah pekarangan sendiri dan mendirikan ruko yang lebih besar sekaligus sebagai tempat tinggal. Toko baru ini tidak jauh dari lokasi ruko yang disewa pertama kali, tepatnya di Jl. Brigjen Katamso sebelah timur gedung DPRD.

“Saat itu sepeda yang tersedia mencapai ratusan unit. Ada sepeda Jawa (pit onta dan pit lanang) lalu ditambah lagi sepeda jengki. Waktu berjalan, kemudian model semakin berkembang, sehingga ada sepeda federal dan balap, serta sepeda mini bahkan sepeda roda tiga. Bapak mengambil langsung dari importir di Surabaya,” terang Yanti.

Harga sepeda waktu itu, sesuai pengakuan Lujiono, salah satu PNS di sebuah lembaga pendidikan di Wonosari menyebutkan, harga sepeda hampir sama dengan jumlah gaji tiap bulan, yakni antara Rp. 34 sampai 35 ribu.

“Gaji pertama sebesar Rp. 34.700 saya gunakan buat beli sepeda. Apabila dibandingkan dengan sekarang nilainya sekitar 10 kali lipatnya dari jumlah itu,” ungkapnya.

Sambung Lujiono, saat itu sepeda masih dominan sebagai alat transportasi. Jumlah kendaraan bermotor masih sangat sedikit. Sepeda masih dimiliki oleh orang dengan penghasilan yang sedikit lebih baik dari rata-rata masyarakat secara umum waktu itu.

Menurutnya, naik sepeda untuk bekerja atau sekolah memiliki rasa dan pembawaan tersendiri. Ada nilai bahwa hidup tidak ngongso, hidup tenang dan tanpa beban. Tuntutan status sosial seolah tidak ada, berbeda dengan sekarang, seiring dengan maraknya sepeda motor, kesan buru-buru cukup terasa, selain itu jarak hubungan masyarakat yang dilatarbelakangi aspek ekonomi dan sosial makin kentara.

Kini, Toko Salib telah memiliki banyak cabang, baik rintisan pendirinya ataupun upaya pengembangan oleh anak-anaknya. Kegigihan Salib, lelaki pendiri toko sepeda kelahiran Klaten dalam berwirausaha telah menular ke anak-anaknya. Saat ini, setiap anak sedikitnya memiliki dua cabang bahkan lebih.

“Enam bersaudara telah meiliki usaha sendiri-sendiri. Sebagian toko dikembangkan ke usaha toko besi,. Selain di Gunungkidul ada juga di Yogyakarta. Nama Salib sebagian masih dipakai untuk nama toko oleh anak dan cucu, sebagian lain memilih nama baru,” papar Yanti saat ditemui di salah satu tokonya di Jl. Baron.

Meski perkembangan transportasi cukup pesat, omset usaha jualan sepeda menurut pengakuan Yanti tidak begitu terpengaruh. Berdasarkan pengamatannya selama berjualan sepeda, ia menengarai ada pergeseran tujuan masyarakat membeli sepeda. “Kalau era 80/90-an kebanyakan untuk sarana transportasi bekerja, saat ini sepeda masih banyak dicari tetapi lebih banyak digunakan untuk refreshing dan olahraga,” ucapnya. (Kandar)

Komentar

Komentar