“Menari jadi hobi dan panggilan hati. Selain kegiatan sekolah, belajar dan pentas menari menjadi aktivitas dominan kesehatian saya,” kata dia belum lama ini saat dotemui dikediamannya.
Sebagai siswa kelas IX di SMP N 1 Wonosari, Citra memanfaatkan setiap libur akhir pekan untuk mengikuti jadwal latihan tari. Setiap Sabtu dan Minggu, ia selalu hadir di sanggar, bahkan mengambil kelas tambahan untuk memperpanjang waktu latihannya menjadi dua jam. Keseriusan Citra dalam berlatih membuahkan hasil; lebih dari lima tarian klasik dan puluhan tarian kreasi modern kini telah ia kuasai.
Tarian klasik seperti Golek Ayun-ayun, Puri Melati, Gambyong, Pangkur Pareanom, dan Bondan adalah beberapa yang dikuasai Citra. Meskipun tantangan menguasai tari klasik lebih berat karena adanya pakem dan nuansa sakral, hal ini justru semakin memotivasinya. Setiap gerakan selalu ia ulang-ulang di rumah hingga benar-benar dikuasai.
Pelajar asal Wonosari, Gunungkidul ini tidak pernah merasa lelah karena dukungan penuh dari orang tua dan sekolah. Kesibukan latihan menjelang pentas bukanlah halangan. Orang tuanya selalu siap mendampingi. Selalu mengantar, menyiapkan kostum, dan memenuhi segala kebutuhan pentas.
Di tingkat SMP, Citra kembali menorehkan prestasi dengan meraih juara satu FLSSN tingkat kabupaten dan maju ke tingkat provinsi mewakili Gunungkidul. Tidak hanya itu, ia juga memenangkan lomba seni Langen Carita tingkat kabupaten selama tiga tahun berturut-turut.
Di bidang senam kreasi, Citra juga menunjukkan prestasi yang gemilang dengan meraih juara nasional sebanyak dua kali. Pada tahun 2020, ia kembali dipercaya mengikuti karantina dan pembinaan PPMBI tingkat provinsi. Berbagai kegiatan pentas tari juga ia ikuti, seperti Jogja Menari, Festival Reog, dan gelar potensi kalurahan budaya.
Di sekolah, Citra yang bercita-cita menjadi dosen seni tari ini sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler tari. Ketika duduk di kelas VIII, ia diberi kepercayaan untuk melatih siswa lain karena guru seni tari pindah tugas. Tidak main-main, Citra juga berani memegang tanggung jawab sebagai koordinator pentas dalam event perlombaan antar sekolah, dan berhasil meraih juara III.
“Bangga sekali bisa meyumbang prestasi bagi sekolah bersama teman-teman,” tuturnya.
Semangat Citra tidak hanya terlihat di sekolah. Di luar itu, ia aktif dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh FORSETA, seperti Jogedan Mataram dan Jumat Menari. Citra juga terpilih sebagai model tari Gunungkidulan dalam rangka Hari Anak Nasional 2023. Pada tahun yang sama, ia kembali meraih juara satu FLSSN tari tingkat kabupaten dan mewakili Gunungkidul ke tingkat provinsi.
Walaupun jadwalnya padat dengan belajar seni tari dan pentas di berbagai kesempatan, Citra tidak pernah melupakan belajar akademik. Baginya, menari justru menjadi penyemangat dalam belajar serta dalam mengejar cita-citanya. Pengalaman, bertemu orang baru, dan pergi ke berbagai tempat menjadi alasan lain yang mendorongnya untuk terus mendalami seni tari.
Pada tahun 2022, Citra yang mengidolakan Didik Nini Thowok ini mulai merambah dunia seni peran. Ia terlibat dalam beberapa film pendek dan setahun kemudian terlibat pada film layar lebar seperti “Narik Sukmo” bersama artis Alindo Syarif dan “Kemah Terlarang Nayla”. Pada film ke dua itu, ia berperan sebagai Vina, seorang pelajar yang menjadi penari.
Hingga kini, Citra yang juga dikenal dengan panggilan Tere, masih setia berlatih di Sanggar Tari Sekarmoyo di bawah asuhan Ibu Dwi Kristiani, S.Sn. Dengan tekad kuat dan semangat tinggi, Citra akan terus mengasah bakat dan mengembangkan kemampuan menarinya, sekaligus melestarikan kebudayaan daerah yang ia cintai. (Kandar)