Tempe Daun Lebih Diminati Daripada Tempe Plastik

oleh -
Karmini dan tempe dagangannya. KH/ Kandar
iklan dispar
Karmini dan tempe dagangannya. KH/ Kandar
Karmini dan tempe dagangannya. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Tempe merupakan olahan pangan tradisional masyarakat sejak zaman dahulu. Makanan berbahan baku kedelai ini sudah jamak menjadi pelengkap menu makan masyarakat Gunungkidul pada umumnya.

Sebenarnya, tak hanya berbahan kedelai saja. Ada juga tempe dengan bahan beberapa macam biji-bijian yang lain, seperti tempe koro (dari koro benguk), tempe lamtoro (biji petai cina atau lamtoro), dan tempe kacang hijau. Namun, sebagian besar tempe kedelailah yang lazim beredar diperjualbelikan.

Secara umum, dilihat dari kemasan pembungkus, tempe dibedakan menjadi dua, yakni tempe bungkus daun jati dan tempe plastik. Minat masyarakat terhadap olahan tempe ini ternyata masih dominan kepada tempe daun jati.

Hal tersebut diungkapkan Karmini, salah satu pembuat sekaligus penjual tempe di Pasar Argosari Wonosari. Selain menjual tempe daun buatannya, ia juga mejual tempe plastik hasil kulakan. Pengakuannya, rata-rata dalam sehari ia mendapat sekitar Rp 25 ribuan dari penjualan tempe daun, lalu untuk tempe plastik mendapat uang di kisaran Rp 10 hingga 15 ribuan.

“Masih laris tempe daun jati. Katanya rasanya lebih enak pakai laru daun waru atau daun jati,” ujarnya, Selasa, (2/2/2016).

Jika sedang ramai, lanjutnya, maka tempe bungkus daun laku lebih banyak lagi. Meski jika dihitung-hitung harganya selisih sedikit lebih mahal. Perhitungannya, satu bungkus tempe plastik jika diiris-iris sesuai ukuran sajian secara umum bisa menjadi sekitar 25 tempe. Satu bungkus tempe plastik dijual dengan harga sekitar Rp 3 ribuan.

“Kalau untuk yang bungkus daun, uang Rp 3 ribu itu mendapatkan sekitar 16 tempe. Sebenarnya lebih mahal sedikit,” tambahnya.

Hal tersebut juga dirasakan Sudarmiyati, pedagang kelontong Pasar Wiyoko Playen. Menurutnya, perbandingan prosentase jumlah tempe yang laku antara keduanya mencapai 65% banding 35 %. “Peminat masih banyak tempe daun,” tandasnya setelah sedikit menguraikan. (Kandar)

Komentar

Komentar