Sinergitas Menghadapi Bencana Hidrometeorologi

oleh -
Warga Pringombo naik ke Gunung Sumilir membawa bibit ficus untuk penanaman
kadhung tresno

Bencana hidrometeorologi jika dijabarkan adalah sebuah bencana yang diakibatkan oleh keadaan cuaca ekstrim. Imbas ekstrimnya cuaca bisa mengakibatkan banjir, angin puting beliung, tanah longsor, pohon tumbang, dan sebagainya. Bahkan, bencana hidrometerologi bisa mengakibatkan masyarakat mengalami kekeringan lahan, kekurangan air bersih, ataupun gagal panen. Perubahan cuaca yang ekstrim (climate change) di suatu wilayah tertentu bisa dipengaruhi oleh keadaan cuaca global sebagai pemicu bencana hidrometeorologi.

Tercatat di tahun 2017 Badai Cempaka melanda Gunungkidul dan sebagian wilayah Indonesia serta menciptakan curah hujan tinggi. Bencana banjir dan tanah longsor terjadi di banyak tempat. Gunungkidul telah mencatat bahwa bencana banjir kala itu terjadi di berbagai wilayah, baik Daerah Aliran Sungai (DAS) ataupun luweng-luweng sebagai jalur sungai bawah tanah di Zona Selatan Gunungkidul. Bencana tanah longsor banyak terjadi di wilayah Zona Batur Agung Utara, meliputi wilayah Kapanewon Nglipar, Patuk, Ngawen, Gedangsari, dan Semin.  Daerah-daerah tersebut memang memiliki struktur tanah yang cenderung labil. Tanah seakan hanya menempel di permukaan lempengan batu-batu utuh sehingga jika tanah rekah dan termasuki air hujan, tanah beserta apa yang ada di atasnya akan beresiko longsor.

Karang Taruna Pringombo sedang berjalan naik ke Gunung Semilir dengan membawa beringin untuk penanaman.[Foto:Padmo]
Karang Taruna Pringombo sedang berjalan naik ke Gunung Semilir dengan membawa beringin untuk penanaman.[Foto:Padmo]
Menurut perkiraan BMKG, di akhir tahun 2020 wilayah kita bersiap menghadapi Badai La Nina, yang kemungkinan akan mempunyai efek tidak jauh berbeda dari Badai Cempaka tahun 2017. Pemerintah sudah melakukan beberapa langkah antisipasi terkait akan datangnya bencana hidrometeorologi ini, di antaranya: 1) pemetaan wilayah rawan bencana, serta 2) penyiapan Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Desa Tangguh Bencana (Destana). Langkah-langkah preventif ini terkait kesigapan masyarakat menghadapi sebuah bencana.

Memang, itu merupakan desain antisipasif yang layak dan harus dilaksanakan. Kerangka berfikirnya menempatkan manusia pada posisi obyek atau penerima akibat, sementara alam sebagai subyek atau potensi penyebab. Jika kita memerhatikan rangkaian kata “bencana alam”, secara tidak langsung menggiring pemikiran kita bahwa alam lah yang menyebabkan sebuah bencana (alam sebagai subjek/pelaku). Beberapa memang demikian, terjadinya banjir, tanah longsor, angin puting beliung, pohon-pohon roboh, kekeringan, dll. pelakunya adalah alam. Mari kita berpikir lebih jauh lagi! Mengapa hal itu bisa terjadi?

Persiapan warga Pringombo naik ke Gunung Sumilir untuk melakukan penanaman.[Foto:Padmo]
Persiapan warga Pringombo naik ke Gunung Sumilir untuk melakukan penanaman.[Foto:Padmo]
Memang, perubahan iklim dan cuaca menjadi pemicu. Akan tetapi kita tidak boleh melupakan bahwa “tidak ada asap kalau tidak ada api”. Perubahan iklim global adalah buah dari eksploitasi alam oleh manusia secara besar-besaran. Penggundulan hutan, penambangan tanpa reklamasi, pencemaran lingkungan oleh limbah industri baik di darat, air, dan udara, semua ini membuat bumi sebagai tempat hidup segala jenis kehidupan mulai terganggu keseimbangannya.

Perubahan iklim global memengaruhi iklim mikro di sekitar kita. Kebudayaan pertanian masyarakat lokal, khususnya Gunungkidul, juga terimbas. Masyarakat petani Gunungkidul mempunyai perhitungan tentang siklus alam yang dikenal dengan “pranata mangsa” (ilmu titen) yang telah lahir ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Beberapa petani di berbagai wilayah masih menggunakan pranata mangsa sebagai patokan dalam perhitungan bercocok-tanam. Perubahan iklim global mendesak sistem ilmu pengetahuan tradisional pranata mangsa menjadi “tidak aktual” lagi. Tanda-tanda alam (titenan) yang biasa digunakan sebagai patokan dalam sistem pranata mangsa mulai berubah. Perubahan pada tanda-tanda alam berdampak pada pengelolaan kehidupan pertanian. Kasus-kasus kegagalan panen sering diakibatkan oleh ‘ketidakpastian’ iklim yang sukar diprediksi (dititeni). Kegagalan panen menambah daftar bencana hidrometeorologi.

Karang Taruna Dusun Pringombo di Gunung Sumilir sedang melakukan penanaman ficus.[Foto:Padmo]
Karang Taruna Dusun Pringombo di Gunung Sumilir sedang melakukan penanaman ficus.[Foto:Padmo]
Lalu, bagaimana solusinya? Apakah seterusnya kita akan selalu menempatkan manusia sebagai objek bencana dan sebaliknya: alam sebagai subjeknya?

Beberapa kajian ilmu menyatakan bahwa sebenarnya siklus dan proses alamiah alam sudah teratur dan seimbang. Alam merupakan tempat hidup segala jenis kehidupan di dalamnya, terutama manusia. Manusia, bersama dengan hewan dan tumbuhan, mengambil kebutuhan dari alam untuk hidup. Manusia sering mendominasi hal ini. Eksploitasi alam secara berlebihan oleh manusia tentu memengaruhi pola keseimbangan alam. Maka, tahun demi tahun demi tahun frekuensi bencana semakin naik grafiknya.

Lahan Pertanian di Gunung Sumilir.[Foto:Padmo]
Lahan Pertanian di Gunung Sumilir.[Foto:Padmo]
Memasuki awal musim penghujan tahun ini, disertai perkiraan BMKG tentang siklus La Nina, di beberapa titik wilayah di Gunungkidul sudah dilaporkan adanya banjir. Sementara itu perkiraan puncak musim hujan masih beberapa bulan ke depan. Salah satu kata kunci untuk menjawab permasalahan ini adalah “sinergitas”. Menghadapi bencana hidrometeorologi kita harus berupaya bagaimana agar manusia dan alam bisa bersinergi, bukan hanya berfikir bahwa alam adalah subjek bencana dan kita objeknya. Rasanya tidak adil ketika kita sebagai manusia menganggap alam hanya sebatas objek untuk memenuhi kebutuhan kita, namun tatkala alam mulai tidak seimbang kita menganggapnya sebagai subjek bencana. Kata kunci “sinergitas” dalam setiap program atau langkah yang kita canangkan akan mampu menghasilkan sesuatu yang bisa dilakukan secara bersama-sama oleh semua pihak. Alam dan manusia adalah sesuatu yang bersifat manunggal dan tergantung satu dengan lainnya. Manusia, yang tidak bisa melanjutkan kehidupan tanpa alam, sepantasnya berpikir untuk tidak sekedar mengambil dan memanfaatkannya, tetapi bagaimana selalu bersemangat untuk menjaga dan memelihara alam.

Apa yang telah dilakukan dan dirintis oleh masyarakat dan Karang Taruna Dusun Pringombo Kalurahan Natah Kapanewon Nglipar beberapa waktu lalu di Gunung Sumilir mungkin bisa dijadikan sebagai contoh kecil di antara langkah-langkah yang ‘secara bersama-sama’ bisa dicanangkan oleh manusia dalam kerangka sinergitas itu. Rengkahnya Gunung Sumilir (742 dpl) akibat curah hujan tinggi tahun 2017 dan mulai menyusut serta matinya sumber air di Pringombo menjadikan masyarakat di sana mulai berpikir tentang pentingnya mengonservasi lahan di wilayah mereka. Masyarakat Pringombo mulai melaksanakan penanaman pohon konservasi secara mandiri. Eko sujatmo (37) dan Dukuh Ristadi (35) merupakan tokoh masyarakat Pringombo yang mengajak karang taruna dan masyarakat untuk segera menyadari kondisi kritis lingkungan mereka. Program penanaman pohon konservasi mandiri bertujuan untuk menyelamatkan sumber mata air dan mencegah tanah agar tidak longsor.

Warga Pringombo di Gunung Sumilir sedang melakukan penanaman ficus.[Foto:Padmo]
Warga Pringombo di Gunung Sumilir sedang melakukan penanaman ficus.[Foto:Padmo]
Langkah kecil yang telah dilakukan oleh masyarakat dan karang taruna Pringombo di Gunung Sumilir adalah bentuk sinergitas manusia dengan alam yang penulis maksudkan. Bersinergi dengan alam bisa dimulai di lingkungan alam terdekat kita. Gerakan kecil di Zona Batur Agung Utara seperti itu jika diperluas menjadi gerakan bersama se-Gunungkidul sangat mungkin akan menjelma solusi atas permasalahan-permasalahan terkait perubahan iklim dan ketidakseimbangan alam. Apa yang sudah dilaksanakan oleh masyarakat Pringombo adalah laku kesadaran lingkungan berbasis komunitas. Artinya, masyarakat lokal mulai bergerak untuk menyelamatkan lingkungannya sendiri sambil berjejaring dengan komunitas lain. Barangkali ke depan gerakan-gerakan kecil semacam ini akan bergulir layaknya “efek bola salju”, bisa menjadi gerakan bersama secara masif di Gunungkidul. Kesadaran lingkungan yang telah dimiliki oleh komunitas lokal menghadapi isu perubahan iklim bisa dijadikan sebagai modal besar bagi pemerintah untuk program jangka panjang “sinergitas dengan alam”. Pemerintah yang notabene merupakan pemegang kebijakan terkait program dan penganggaran seharusnya tanggap ing sasmita menangkap dan menyambut gerakan-gerakan kecil dari bawah ini (bottom up). Harapannya, api kecil menghadapi bencana hidrometeorologi bisa membakar kesadaran seluruh elemen dan stake holder untuk bersama-sama (sinergik) melakukan gerakan penyelamatan lingkungan.

Banjir, kekeringan, tanah longsor, dan sebagainya adalah sinyal bagi kita untuk segera sadar bahwa sinergitas manusia dan manusia dengan unsur-unsur alam sedang pecah. Menjadi program utama bagi kita kiranya untuk bersama-sama menjaga dan merawat alam demi keberlangsungan kehidupan kita sendiri karena pada hakekatnya kita tidak bisa hidup tanpanya.

[Edi Padmo]

Komentar

Komentar