Petani Nglanggeran Mulai Panen Kelengkeng

oleh -
Panen perdana kelengkeng Nglanggeran bersama CSR Pertamina dan mitra pendamping. foto: TPP Patuk.
iklan dispar
Panen perdana kelengkeng Nglanggeran bersama CSR Pertamina dan mitra pendamping. foto: TPP Patuk.

PATUK, (KH)— Kerja keras petani lahan tandus di perbukitan kawasan Desa Nglanggeran, Patuk Gunungkidul terbayar sudah. Buah kelengkeng yang ditanam para petani tahun 2013 silam kini mulai menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Pembangunan embung nglanggeran pada tahun 2012-2013 silam mulai memberikan efek nyata bagi petani buah didesa setempat. Buah kelengkeng yang ditanam simbolis oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pada lahan seluas kurang lebih 20 hektar kini mulai berbuah.

Salah satu petani kebun buah Desa Nglanggeran, Sudiyono mengatakan, perasan tidak yakin sempat muncul pada awal penanaman buah klengkeng, berkat kerja keras dan pengairan yang cukup, ternyata buah kelengkeng jenis itok yang ditanam bersama 85 petani lainya bebuah manis.

“Panen perdana kita gelar Sabtu 25 Februari 2017 kemarin. Walapun hasilnya belum sesuai dengan target tapi kita semua bersyukur bahwa lahan tandus telah menghasilkan buah yang sangat manis,” katanya, Rabu (1/3/2017).

Sudiyono mengatakan, kegigihan dan semangat menggarap lahan tandus tersebut tidak lepas dari pendampingan LSM dan dukungan CSR Pertamina. Pada akhir Februari 2017 kemarin 300 tanaman kelengkeng yang ditanam, 90 persenya mampu berbuah dengan sempurna. “Panenya bagus, tidak menutup kemungkinan juga kita jual di supermarket,” terangnya.

Semangat warga Nglanggeran dalam menikmati panen kelengkeng tidak hanya sampai disitu, sebagian warga juga berlatih mengenai sistem manajemen perdagangan. Gagasan juga muncul petani setempat akan menyiaplan koperasi untuk menampung, menjual sekaligus mempromosikan hasil kebun yang ada. “Koperasi yang kita harapkan tentunya untuk kesejahteraan petani,” paparnya.

Sementara Manager SMEPP Operating PT Pertamina Agus Mashud S Asngari mengatakan, melihat hasil panen durian  yang cukup tinggi mencapai 1 kwintal, pihaknya berpendapat, Desa Nglanggeran mampu bersaing menjadi sentral kelengkeng di DIY. Konsep serupa menurutnya juga telah dilakukan dibeberapa daerah lain seperti di Rembang, Kulonprogo, Temanggung dan Kebumen.

“Semua konsep pemberdayaan ini semata-mata untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” katanya. (WW)

Komentar

Komentar