Peringkat UN Se- DIY Masih Terendah, Ketimpangan Nilai Antar Sekolah Terlalu Jauh

oleh -
Kepala Bidang Pendidikan Menengah, Disdikpora Gunungkidul, Sukito S.Pd, MM. (KH/ Kandar)
iklan dispar
Kepala Bidang Pendidikan Menengah, Disdikpora Gunungkidul, Sukito S.Pd, MM. (KH/ Kandar)
Kepala Bidang Pendidikan Menengah, Disdikpora Gunungkidul, Sukito S.Pd, MM. (KH/ Kandar)

WONOSARI, (KH)— Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringkat rata-rata nilai Ujian Nasional se- Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) jenjang Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK) masih sama.

Posisi peringkat nilai UN SMA jurusan IPA dan IPS masih berada di paling bawah, sedangkan untuk SMK berada di peringkat tiga se-DIY. Disampaikan Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul Sukito SPd MM, jenjang SMK berada di nomor tiga di atas Kabupaten Bantul dan Sleman.

“SMA masih sama, kita paling bawah, dengan total nilai 319,53 untuk IPS dan 316,69 untuk jurusan IPA. Urutan peringkat jurusan IPA yaitu Kota Yogya, Bantul, Sleman, Kulonprogo lalu Gunungkidul,” katanya Selasa, (17/5/2016).

Sedangkan jurusan IPS, urutannya yakni dari Kota Yogya, Sleman, Bantul, Kulonprogo baru kemudian Gunungkidul. Penyebabnya, ia sebut terdapat faktor-faktor yang sangat kompleks, di antaranya cenderung merupakan alasan klasik.

“Perhatian berupa pengawasan orang tua terhadap belajar siswa, kemudian yang penting adalah kemauan belajar dari anak tersebut,” tambah dia.

Ia mengutarakan, meski kecil, latar belakang keluarga seperti halnya kondisi ekonomi juga memiliki pengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa. Ia contohkan misalnya, mengenai fasilitas pendidikan dari orang tua.

“Masalah ekonomi tidak begitu kuat pengaruhnya, sekarang sudah ada dana BOS dan KIP bagi pelajar dari keluarga kurang mampu. Faktor lain dari keluarga, seperti harmonisasi dan kondisi keutuhan keluarga si anak didik, hal ini bahkan tak hanya berpengaruh pada akademiknya saja, tetapi dapat menimbulkan anak berperilaku negatif,” ulasnya.

Selain itu, ia menyebut minat baca pelajar memang rendah. Ia kembali menganjurkan ulang bahwa program 15 menit membaca buku itu mestinya digalakkan lagi. Karena kenyataannya tidak dilaksanakan oleh semua sekolah.

Berdasar daftar peringkat nilai UN siswa se Gunungkidul, siswa dari SMA 1 Wonosari mendominasi nilai tertinggi baik IPA maupun IPS. Untuk jurusan IPA, dalam peringkat tiga besar terdapat dua siswa SMA 1 Wonosari dan satu siswa dari SMA 2 Wonosari berada pada nomor tiga.

Sedangkan jurusan IPS, hingga peringkat ke sembilan semua siswa dari SMA 1 Wonosari. Mengenai hal ini, Staf Kurikulum SMA 1 Wonosari, Sriyanta memberikan tanggapan, karena peringkat nilai se-DIY tersebut merupakan peringkat nilai rata-rata, maka penyebabnya adalah adanya jarak atau ketimpangan nilai yang terpaut jauh antara sekolah satu dengan yang lain di Gunungkidul pada level DIY.

“Contohnya, misalnya SMA 1 dapat masuk lima atau sepuluh besar, sekolah Gunungkidul yang lain menyusul dengan peringkat di atas 20,” sebut dia.

Untuk memperoleh nilai tinggi, beberapa upaya dilakukan oleh SMA 1 Wonosari, di antaranya les sore hari yang mengacu ke materi UN. Kemudian membantu siswa untuk menarik mereka yang berada pada level nilai bawah dengan pembuatan kelas tutor sebaya. Tutor dipilih dengan formula tertentu sesuai record prestasinya sejak kelas X. Tutor sebaya diakui memiliki dampak sangat signifikan.

Kemudian, lanjut dia, ada pelaksanaan ESQ, ia katakan hal ini sudah banyak dilakukan di sekolah lain. Teknis pelaksanaannya yakni dua kali pada semester satu. Peserta pada pelaksanaan pertama yaitu siswa beserta orang tua, kemudian yang ke dua pesertanya hanya siswa saja, hal ini dilakukan dengan tujuan tumbuhnya semangat belajar yang lebih pada anak, sekaligus supaya orang tua memberikan dukungan secara penuh.

“Selain itu, guru pengampu kelas XII benar-benar dapat dibilang mau bekerja keras, atau dapat disebut pilihan. Mungkin hal-hal tersebut dapat diterapkan disekolah lain,” kata dia lagi. (Kandar)

Komentar

Komentar