Pemukulan Siswa SMP, Ini Penjelasan Kepala Sekolah

oleh -
iklan dispar
Ilustrasi. Dok: internet
Ilustrasi. Dok: internet

WONOSARI,(KH) — Peristiwa pemukulan yang terjadi antara siswa di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Wonosari sudah diselesaikan pihak sekolah. Pihak sekolah juga bertanggung jawab penuh atas kejadian tersebut dengan mengobati korban ke Rumah Sakit dan mempertemukan kedua belah pihak orang tua murid, dan sepakat menyelesaikan permasalahan tersebut secara kekeluargaan.

Berdasarkan penjelasan pihak sekolah yang telah meminta keterangan kepada korban dan pelaku, peristiwa pemukulan terjadi pada hari Minggu (05/04/2015), sewaktu siswa menunggu kendaraan di halaman sekolah untuk acara outbond di luar sekolah.

Herwanti SPd, Kepala SMP tersebut menjelaskan, menurut pengakuan korban dan siswa yang melakukan pemukulan, kejadian bermula dari pelaku pemukulan yang meminjam sepeda korban. Karena dalam memakai sepeda tidak hati-hati, korban meminta sepedanya sambil mengucapkan kata-kata kotor ke pelaku pemukulan.

“Karena merasa diejek dengan kata-kata kotor oleh korban, lantas siswa yang meminjam sepeda melakukan pemukulan secara spontan. Tidak ada pengeroyokan atau terencana untuk mengeroyok korban,” jelas Herwanti kepada KH, Rabu, (08/04/2015).

Herwanti menambahkan, setelah kejadian tersebut korban tidak melaporkan ke sekolah. Kejadian siswa yang berantem di sekolah tersebut diketahui setelah salah satu guru yang melihat luka di wajah korban sesaat sebelum berangkat outbond. Pihak sekolah kemudian mengajak korban untuk diperiksa, namun korban mengehendaki untuk tetap mengikuti outbond.

Setelah berhasil dibujuk oleh pihak sekolah, akhirnya korban bersedia dibawa ke Rumah Sakit Nur Rohmah Playen untuk dilakukan pengobatan. Setelah kejadian tersebut, keesokan harinya pihak sekolah memanggil kedua orang tua murid yang terlibat perkelahian di sekolah.

“Korban mau diantar pulang oleh pihak sekolah ke rumahnya namun korban tidak bersedia. Tetapi sebelum kedua orang tua dipertemukan ke sekolah sudah ada laporan ke pihak kepolisian tanpa konfirmasi ke sekolah terlebih dahulu,” jelasnya.

Herwanti juga menambahkan, kedua orang tua sudah dipertemukan, saling berembug, dan semua saling menyadari sehingga akhirnya diperoleh kesepakatan damai. Laporan yang diajukan ke pihak kepolisian juga sudah dicabut oleh orang tua korban.

“Terkait korban yang dirawat di Klinik Multazam Duwet karena mengalami diare. Selaku pihak sekolah kami tetap bertanggung jawab dan memantau siswa tersebut. Setelah kami jenguk dan kami tanyakan ke pihak Klinik Multzam, korban diopname bukan karena pemukulan,” pungkas Herwanti. (Atmaja).

Komentar

Komentar