“Kami terlebih dulu menyiapkan dana guna menggelar peringatan Sumpah Pemuda dengan mengumpulkan limbah sampah berupa botol plastik, kardus bekas, besi bekas serta minyak jelantah bekas,” kata dia beberapa waktu lalu.
Lanjutnya, setelah limbah sampah tersebut dikumpulkan, kemudian dijual kepada pengepul limbah sampah terdekat. Organisasi Formasi mendapatkan uang hingga Rp100 ribu tiap 56 kilogram limbah sampah.
Proses mengambil, mengumpulkan, lalu menjual limbah tersebut terus-menerus dilakukan. Hal itu semata agar uang yang sedianya digunakan untuk menggelar agenda peringatan Sumpah Pemuda semakin banyak terkumpul.
“Kami kemudian mampu menggelar pentas seni dan agenda penyemarak lainnya. Dana yang dapat terkumpul juga dilakukan dengan cara menjual produk UMKM di wilayah kami,” imbuhnya.
Formasi, ungkap Thomas, sengaja menerapkan metode pengumpulan dana dan penyelenggaraan acara secara mandiri. Berbeda dengan cara yang umum dilakukan sepertihalnya membuat proposal bantuan.
“Kami ingin agar acara dapat terselenggara namun tak membebani masyarakat,” tukasnya. (red)