Pelaku Wisata Menderita Akibat Cicilan Bank, Gaji, Kebutuhan Listrik dan Air

oleh -
pelaku wisata
Gabungan asosiasi pelaku wisata berkoordinasi. (istimewa)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Gabungan asosiasi pelaku wisata di Gunungkidul menyampaikan keluhan secara tertulis kepada Bupati Sunaryanta. Keluhan tertulis dalam surat Permohonan Pembukaan Destinasi Wisata yang dibuat 6 Oktober 2021 tersebut ditandatangani oleh ketua beberapa asosiasi.

Penandatangan permohonan antara lain Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Gunungkidul, Sukriyanto; Ketua Perkumpulan Penyelenggara Jasa Boga Indonesia (PPJI) Gunungkidul, Wanto Harusno; Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Sunyata; Ketua Biro Perjalanan Wisata (BPW) Gunungkidul, Very Bastian; Ketua Asperwi, Gunugkidul, Jaka Purnama; serta Ketua Forkom Pokdarwis Gunungkidul, Awanto.

Dalam kalimat pembuka, gabungan asosiasi kompak menyatakan bersyukur atas merununnya level PPKM yang diikuti kelonggaran aktivitas ekonomi. Namun, kelonggaran tersebut dianggap belum dirasakan oleh pelaku wisata karena masih ditutupnya destinasi wisata.

Mereka menganggap penutupan destinasi wisata semakin memperpanjang penderitaan pelaku wisata karena tak ada kunjungan wisatawan. Dengan tidak adanya kunjungan wisatawan secara otomatis tak ada pemasukan bagi pelaku wisata.

Padahal, mereka punya tanggungan atau kewajiban rutin atas berbagai kebutuhan, seperti kebutuhan sehari-hari, bayar karyawan, cicilan bank, kebutuhan listrik, air, dan lain-lain.

“Merujuk pembukaan mall di DIY dengan kapasitas sebagaimana diatur dalam PPKM Level 3, maka kami meminta kebijakan untuk membuka akses ke destinasi wisata seluruh Gunungkidul dengan menerapkan kapasitas tampung sesuai PPKM Level 3,” demikian ditulis pada poin ke dua.

“Hal tersebut semestinya tak sulit dilakukan mengingat kapasitas atau daya tampung yang ada cukup untuk menampung pengunjung sebagaimana aturan PPKM Level 3,” lanjut mereka.

Mereka menilai tidak perlu lagi ada kekhawatiran dengan adanya kunjungan wisatawan. Sebab, protokol kesehatan telah diterapkan di seluruh destinasi wisata. Bahkan ada pula pengelola yang telah memegang sertifikat CHSE.

Jika hari ini, Sabtu 9 Oktober 2021 destinasi wisata tak dibuka, mereka mengancam akan mengibarkan bendera putih serentak di destinasi wisata sebagai bentuk ungkapan kondisi keterpurukan usaha yang mera jalani.

Saat dihubungi, Ketua PHRI Gunungkidul, Sunyata dan Ketua HPI Gunungkidul, Sukriyanto terkait pengibaran bendera yang dijadwalkan dilakukan hari ini, hingga berita ini disusun belum memberikan jawaban. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar