Pasang Surut Usaha Penjual Mendong Pasar Argosari

oleh -
Sis Watiem penjual Mendong dan tikar berbahan Mendong di Pasar Argosari. KH/ Kandar.
iklan dispar
Sis Watiem penjual Mendong dan tikar berbahan Mendong di Pasar Argosari. KH/ Kandar.
Sis Watiem penjual Mendong dan tikar berbahan Mendong di Pasar Argosari. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH)— Antara tahun 1976-an hingga 2000-an, pedagang Mendong di Pasar Argosari menjajakan Mendong atau tikar berbahan Mendong hanya pada hari pasaran Pon saja. Sehingga masyarakat yang membutuhkannya akan datang ke Pasar pada hari pasaran Pasar Argosari tersebut.

Tetapi semenjak bangunan pasar baru selesai dibangun sekitar Tahun 2006, Sis Watiem (55), salah satu pedagang Mendong ini berjualan melayani masyarakat yang membutuhkan Mendong atau tikar setiap hari.

Menempati kios di deretan paling timur selain menyediakan Mendong dan tikar, ia juga menjual topi caping, dhadung dan juga jual beli palawija.

“Penjual Mendong saat ini hanya ada dua, yang buka tiap hari hanya saya. Diawal buka atau jualan, tengkulak Mendong asal Sleman mengirimnya langsung ke Guunungkidul,” ujar Warga Gedangsari Desa Baleharjo ini, Selasa, (25/10/2016).

Kemudian semenjak buka kios setiap hari, Mendong tak lagi diantar, tetapi ia sendiri yang mencari ke Minggiran, Sleman memanfaatkan jasa angkut mobil bak terbuka atau truk engkel. Biasanya dalam sekali perjalanan berbelanja Mendong ia membayar sebanyak Rp. 400 ribu untuk biaya jasa angkut.

Pengakuan Watiem, tikar yang ia jual bukan buatannya, ia membelinya dari Sleman atau pengrajin  dari warga Nglipar. Pengrajin dari Nglipar biasa membeli Mendong dari dirinya lantas setelah dibuat tikar ia membelinya kembali untuk dijual.

Seiring berjalannya waktu, usaha jual-beli Mendong dan tikarnya mengalami pasang surut. Selama berjualan Mendong ia mengaku bahwa Mendong mengalami pergeseran peminat. Dahulu peminat Mendong atau tikar secara umum adalah masyarakat petani, baik untuk alas tidur di dipan/ tempat tidur dan juga untuk kelengkapan sebuah ritual tradisi.

“Biasa dibutuhkan sebagai syarat sebuah tradisi oleh warga lokal, seperti orang yang punya hajat nikahan, wayangan (pertunjukan wayang kulit), rasul, ruwatan, boyongan atau perpindahan domisili  tinggal, serta beberapa ritual lainnya,” jelasnya.

Perkembangan alas duduk atau tempat tidur berupa tikar berbahan plastik dan karpet membuat penjualan tikar Mendong miliknya mengalami penurunan omset, tetapi saat penurunan daya beli oleh masyarakat petani lokal terjadi, sebaliknya warga dari luar kota semakin berminat.

Lanjut dia, sehabis Lebaran penjualan tikar Mendong miliknya naik tajam, warga perantauan di kota besar biasa membeli sebagai oleh-oleh, selain itu permintaan tikar oleh penjual batu nisan dapat diandalkan dan mampu mestabilkan omset pada bulan-bulan tertentu dimana permintaan kebutuhan umum sedang sepi.

“Dalam sehari antara 15-20  lembar tikar kita kirim ke penjual nisan yang akan dijual bersama batu nisan sebagai pembungkus mayat. Di Gunungkidul ada beberapa toko batu nisan yang sudah langganan ke kami,” ungkapnya.

Harga tikar cukup beragam tergantung ukuran dan kombinasi dalam pembuatannya, sebagai contoh ukuran 1×2 meter persegi tikar jenis polos biasanya dijual dengan harga Rp. 20 hingga 25 ribu, sedangkan yang ada kombinasi warnanya ia jual antara Rp. 25 hingga 30 ribu. (Kandar)

Komentar

Komentar